Wabah Penyakit Menular Ancam Pengungsi Aceh
Kamis, 30 Des 2004 06:02 WIB
Jakarta - Sulitnya air bersih, banyaknya mayat yang belum dikubur serta kondisi tempat pengungsian yang memprihatinkan akan menimbulkan berbagai penyakit menular bagi pengungsi Aceh. Penyakit kolera, diare dan disentri serta penyakit lainnya mengancam kesehatan para pengungsi.Kondisi seperti ini akan sangat tidak baik bagi para pengungsi khususnya pengungsi anak-anak. Mereka yang nantinya akan lebih mudah terserang penyakit menular itu, mengingat kondisi fisik dan psikis mereka yang lemah akibat bencana tsunami Aceh.Mayat-mayat korban sudah mulai menggembung dan dalam satu hingga dua hari ini tentunya akan menimbulkan penyakit. Diperlukan tim medis berikut obat-obatan terutama untuk anak-anak. Hingga kini jalur distribusi bantuan bantuan bahan makanan, obat-obatan dan pakaian ke wilayah Meulaboh mengalami kesulitan. Hancurnya jalan dan jembatan yang menuju Meulaboh membuat kawasan itu menjadi terisolir dan sulit dicapai.Akibatnya banyak pengungsi yang berada di kekurangan bahan makanan karena logistik tidak bisa didistribusikan. Hal itu disebabkan karena tidak ada transprortasi yang mengangkut bahan makanan ke Bandara Sultan Iskandar Muda ke daerah tersebut.Informasi yang dikumpulkan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), untuk mencapai Meulaboh, Aceh Barat hanya bisa digunakan pesawat/helikopter ke Belang Pidi dan dilanjutkan dengan transport darat ke Meulaboh. Ada empat tempat penampungan pengungsi di Meulaboh yaitu, Kompi 8, Rumah Sakit Umum, SMA 1 dan Asrama Kodim. Sarana transportasi untuk mengevakuasi korban di tempat itu juga tidak ada.Sementara di Lhokseumawe, data yang tercatat hingga saat ini adalah korban meninggal sampai 700 orang, dan penduduk yang hilang belum diketahui dengan pasti diperkirakan 1000 orang. Penguburan mayat secepatnya harus dilakukan. Barang yang dibutuhkan antara lain, kain kafan, pakaian, tenda, obat-obatan, selimut, kompor, air, dan makanan. Sedangkan keadaan para pengungsi di Lhokseukon tak jauh berbeda dengan lokasi lainnya. Mereka mengalami rawan pangan dan penyakit terutama penyakit perut, gatal-gatal dan cacingan. Anak-anak kekurangan susu dan makanan suplemen lainnya.
(mar/)











































