Akibat penjualan tiket di Halte TransJakarta yang menggunakan sistem e-ticketing mulai Agustus 2014, tiket APTB, BKTB, dan Kopaja AC tidak akan dijual lagi di halte TransJ. Para pengguna pun terpaksa membayar dua kali bila ingin menggunakan moda transportasi tersebut. Bagaimana solusinya?
Direktur Institute Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia, Yoga Adiwinarto mengungkapkan bahwa integrasi antar moda transportasi adalah hal yang penting dan mendasar. Bila pengguna harus membayar dua kali, akan ada kecenderungan jumlah penumpang akan menurun.
"Kalau dua kali bayar, pengguna ini akan enggan, malah naiknya dari pinggir atau dari separator. Jadi TransJakarta jangan abaikan Kopaja dan APTB," kata Yoga ketika berbincang dengan detikcom, Selasa (22/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh sebab itu, harus ada solusi agar pengguna kedua moda transportasi itu tidak dirugikan dengan sistem e-ticketing ini. Yoga mengusulkan agar ada card reader khusus di dalam Kopaja AC.
"TransJakarta instruksikan agar bank-nya juga kerjasama dengan APTB dan Kopaja AC. Di Solo, Bank Mandiri dan BCA menaruh card reader di dalam bus. Kita juga pernah bilang sama orang Kopaja dan mereka sambut baik tapi tidak ada biaya," ucap alumni ITB jurusan Teknik Sipil ini.
Solusi kedua dari Yoga ialah penyeragaman tarif. Ia menilai bahwa sudah saatnya tarif TransJakarta dinaikkan hingga Rp 5000 atau sama dengan tiket Kopaja AC. Ia pun yakin para pengguna tidak keberatan.
"TransJakarta kalau Rp 5000 masih bisa. Kopaja AC sudah membuktikan bahwa ketika harganya lebih tinggi sedikit tapi didukung dengan AC, ternyata masih banyak peminatnya," ujar Yoga.
Terkait komentar Plt Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang menyebutkan bahwa Kopaja masih sulit diatur, Yoga membebankannya pada Dinas Perhubungan DKI. Ia mengibaratkan Kopaja bagaikan anak nakal yang harus diperingatkan.
"Awalnya mereka rapi, tapi akhir-akhir ini tidak ada yang memperingatkan. Ketika dia menurunkan penumpang sembarangan, kan bisa ditilang, ambil SIM-nya. Ketika ngetem, Dishub harus tegas," tutur pemegang gelar master dari Leeds University di bidang Transport Planning ini.
Per tanggal 1 Agustus 2014, tidak akan ada lagi penjualan tiket APTB, BKTB dan Kopaja AC di loket Transjakarta. Seluruh operator akan mengutip tiket, baik perjalanan dalam kota maupun ke luar kota.
Dengan sistem itu, orang yang mau naik Kopaja AC, misalnya, harus membayar Rp 8.500, yakni berupa tiket masuk halte Rp 3.500 ditambah tiket yang harus dibayar dalam bus. Kondisi tersebut berlaku untuk seluruh bus milik operator APTB dan BKTB.
Kesepakatan tersebut didapat dalam rapat antara Dinas Perhubungan, PT Transportasi Jakarta, Unit Pengelola Transjakarta, serta para operator APTB dan BKTB di kantor Dinas Perhubungan, Jumat (18/7). Menurut Direktur Utama PT Transportasi Jakarta, AN Steve Kosasih, semua peserta rapat menyetujui hal itu, kecuali Kopaja yang meminta agar penumpang diberikan akses khusus.
Sementara itu, Kepala UP Transjakarta, Pargaulan Butar-butar, menegaskan seluruh pembayaran akan langsung masuk ke rekening Transjakarta. "Karena itu sulit dilakukan pemisahan pembayaran secara elektronik karena dalam halte penumpang akan tercampur antara penumpang Transjakarta dan penumpang APTB atau BKTB," kata Pargaulan.
(imk/fjr)











































