"Erupsi itu ada 2, eksplosif dan efusif. Kalau efusif Itu lelehan, Magma keluar terus mengalir. Nah ini lah Karangetang, jadi tidak ada letusan," ungkap Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) M Hendrasto kepada detikcom, Minggu (20/7/2014).
Hendrasto membenarkan keluarnya guguran lava pijar dari Gunung Karangetang semalam, Sabtu (19/7/2014). Jarak guguran tersebut mencapai 2.000 meter dari puncak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walau guguran kali ini terbilang jaraknya cukup panjang, Karangetang masih berstatus siaga dan belum naik ke level awas. Menurut Hendrasto guguran hingga kini masih terjadi di Karangetang.
"Ciri khasnya memang seperti itu. Kalau biasanya paling sekali-sekali. Jadi masih siaga, karena sampai sekarang belum berhenti," kata Hendrasto.
Untuk itu Hendrasto kembali mengingatkan supaya tidak ada aktivitas di atas Gunung Karangetang. Status siaga menurut Hendrasto steril dengan batas 3,5 Km dari puncak gunung.
"Tidak naik dari ketinggian 300 meter atau sekitar 3,5 km dari puncak. Di bantaran sungai-sungai yang berhulu di Gunung Karangetang jangan beraktivitas. Takutnya jika hujan lebat nanti ada lahar, material dari atas terbawa ke bawah," tambah Hendrasto mengingatkan.
Hendrasto juga meminta agar warga setempat tidak panik atas kejadian ini. Namun menurut Hendrasto, warga-warga di sekitar Karangetang sudah mengetahui karakteristik gunung tersebut sehingga sudah terbiasa menghadapinya.
"Jangan panik, tidak dengarkan isu-isu yang tidak jelas sumbernya. Jika ingin mengetahui informasi tanyakan ke pos-pos penjaga gunung atau Pemda. Beraktivitas saja seperti biasa tapi tetap meningkatkan kewaspadaan," tutupnya.
(ear/kha)











































