Batalkan Pesta Tahun Baru 2005!
Rabu, 29 Des 2004 14:31 WIB
Jakarta - Imbauan agar pesta dan peringatan tahun baru 2005 dibatalkan makin menguat. Ini perlu dilakukan sebagai rasa solidaritas dan tenggang rasa terhadap warga Aceh yang kini menderita akibat gempa dan gelombang Tsunami. Sudah banyak tokoh dan lembaga yang menyuarakan ini. Termasuk Fraksi PAN (Partai Amanat Nasional) DPR RI. Sikap FPAN ini disampaikan Ketua FPAN Abdillah Thoha kepada wartawan dalam jumpa pers di gedung DPR, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (29/12/2004). FPAN menyatakan duka cita dan prihatin atas musibah yang menimpa Aceh. Untuk membantu masyarakat Aceh, FPAN telah menetapkan gaji Januari 2005 para anggotanya disumbangkan. Selain itu, kata Abdillah, FPAN juga menyerukan sejumlah hal terkait musibah tsunami Aceh dan Sumut ini. Pertama, DPR supaya menyetujui sisa anggaran DPR RI tahun 2004 untuk disalurkan kepada korban Aceh. Misalnya, sisa dana BURT yang batal digunakan untuk ke luar negeri, supaya disalurkan kepada warga Aceh. Kedua, seluruh anggaran bencana alam 2004 di seluruh departemen segera disalurkan oleh pemerintah, yang jumlahnya diperkirakan Rp 400 miliar. Sampai saat ini, seluruh anggaran bencana alam belum dicairkan. Ketiga, kegiatan peringatan atau pesta pora menghadapi Tahun Baru 2005 ditiadakan sebagai wujud keprihatinan. Keempat, kepada stasiun televisi di seluruh Indonesia diminta lebih peka dalam menyiarkan program-program dan menghentikan program-proram yang tidak sesuai dengan suasana berkabung Kelima, seluruh bangsa Indonesia supaya mendoakan dan ikut membantu dalam berbagai bentuk dan pemerintah supaya membangun sistem peringatan dini bencana alam. Pada kesempatan itu, Abdillah Thoha juga menyampaikan, saat ini warga Aceh sudah lumpuh secara fisik dan mental. "Karena itu, mereka harus ditolong sukarelawan secepat mungkin. Termasuk Aceh yang tertutup untuk asing, harus segera dibuka, supaya ada bantuan internasional. Darurat sipil harus betul-betul fleksibel," pinta Abdillah. FPAN juga meminta agar masyarakat tidak hanya mengkritik pemerintah, tapi juga ikut membantu menyelesaikan penanganan pasca musibah Aceh. "Untuk pemerintah, kita tidak bisa mengkritik begitu saja, karena ini bencana yang sangat besar. Tanpa bantuan masyarakat, tidak mungkin pemerintah bisa mengatasi sendiri," jelasnya.
(asy/)











































