Enny Nuraheni mengabarkan kakaknya, Ninik Yuriani, adalah salah satu penumpang di pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH17 rute Amsterdam-Kuala Lumpur yang jatuh tertembak roket di Ukraina. Ninik yang sudah tinggal 17 tahun di Belanda ini dikenal sebagai sosok yang ramah dan sangat mencintai Indonesia.
Selama 17 tahun Ninik menetap di kota Eindhoven bersama suami, anak dan cucu-cucunya. "Dia sangat baik sama semua saudara dan kita sangat kehilangan dia. Nggak hanya sama keluarga, tapi dia juga baik ke semua orang," ujar Enny saat berbincang dengan detikcom, Jumat (18/7/2014).
Ia mencontohkan hadiah yang diterima Ninik dari klien, rekan serta atasan Ninik di toko kue tempatnya bekerja. Mereka memberikan hadiah karena mendengar Ninik akan pulang ke Wonosobo, Jateng.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ninik ke Indonesia menggunakan paspor Indonesia karena dia enggan pindah kewarganegaraan. "Suaminya sudah warga negara Belanda walaupun orang Thailand. Tapi dia tidak mau berpindah warga negara," ucap Enny.
Di Eindhoven, Ninik membuat sebuah wadah dan workshop untuk yang ingin belajar tarian Melayu. Bahkan, Ninik punya rencana membuat kelompok pemain angklung dengan mahasiswa Indonesia yang menetap di Amsterdam.
"Dia sangat Indonesia. Dengan suara pas-pasannya, ia selalu menyanyikan lagu-lagu Indonesia dengan mengenakan baju kebaya di Belanda," ujarnya.
Enny bercerita, tarian yang ditampilkan Ninik di Belanda hanya dipelajari di masa kecil di Wonosobo. Namun, kecintaan pada Tanah Air mengantar Ninik untuk belajar tarian Indonesia secara otodidak di Belanda dan membentuk klub tari.
"Dia membentuk kelompok tari dan dia yang paling tua," tuturnya.
Ninik juga dipuji karena kelezatan masakan Indonesia yang kerap dibuatnya di katering kecil-kecilan miliknya. Dia sering menerima pesanan dari orang Belanda dan Suriname yang senang dengan makanan Indonesia.
"Seminggu sebelum pulang ke Indonesia, dia masih sibuk menerima pesanan," kenangnya.
Menumpangi pesawat Malaysia Airlines MH17
Ninik terbang dengan MH17 karena berencana berlebaran di Indonesia hingga 10 Agustus 2014 mendatang. Ia berangkat bersama seorang WNI yang dpanggil Enny dengan 'Bu Ana'. Putri 'Bu Ana' inilah yang mengabari putri Ninik yang bernama Hany Pratiwi tentang kecelakan ini. Awalnya, Enny mengatakan Hany tak percaya namun diyakinkan degan sambungan telepon dari Malaysia Airlines (MAS) yang memberitahu soal kecelakaan.
Kini, rencana Ninik berkumpul dengan keluarganya di Wonosobo dan Jakarta tinggal kenangan. Enny dan keluarga saat ini masih berembuk untuk mengambil sikap terkait kecelakaan ini.
(bil/nrl)











































