65% Tubuhnya Terguyur Kolak Mendidih, Bayi ini Butuh Bantuan

65% Tubuhnya Terguyur Kolak Mendidih, Bayi ini Butuh Bantuan

- detikNews
Kamis, 17 Jul 2014 22:36 WIB
65% Tubuhnya Terguyur Kolak Mendidih, Bayi ini Butuh Bantuan
Semarang - Destrian Ristiyar Sandy Wijaya, bayi berusia 23 bulan asal Margosari I nomor 5 RT 04 RW 12, Salatiga harus menahan sakit luka bakar akibat terguyur sepanci kolak pisang yag mendidih. Luka bakar Sandy menyebar hingga 65 persen tubuhnya.

Di ruang isolasi Theresia I RS St Elisabeth Kota Semarang, tangan dan kaki Sandy terpaksa diikat di pinggir kasur karena terus merengek dan berusaha melepas perban dan alat yang menempel di tubuhnya. Ibunya, Yuli Arisanti (38) dengan sabar merawat dan menenangkan Sandy.

Yuli menceritakan, peristiwa nahas yang menimpa putra ketiganya itu terjadi 29 Mei lalu sekitar pukul 22.30. Saat itu Sandy sedang berada di kamar pamannya sementara Yuli dan suaminya, Eko Ristiono (45) sedang menyiapkan barang untuk bekal Eko berangkat kerja di kawasan Industri di Mojokerto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di sebelah kamar pamannya itu ada dapur, budenya masih memanasi kolak pisang di kompor yang ada di bawah," kata Yuli kepada detikcom di RS St Elisabeth, Semarang, Kamis (17/7/2014).

Kemudian Sandy dengan terhuyung keluar dari kamar pamannya. Yuli mengira saat itu Sandy akan ke kamarnya untuk tidur karena terlihat mengantuk. Tapi saat diluar pengawasan, tiba-tiba terdengar suara panci terjatuh dan ternyata Sandy terkapar dengan kolak panas di sekitarnya.

"Enggak tahu kejadiannya bagaimana. budenya sudah menemukan dalam kondisi tengkurap dan kolak kemana-mana. Suami saya langsung menggendongnya dan di masukkan ke air di kamar mandi kemudian di bawa ke RS Salatiga," ujar perempuan yang membuka warung makan di rumahnya itu.

Di IGD RSUD Salatiga, dokter menyatakan Sandy mengalami luka bakar 65 persen dan harus segera dirujuk. Yuli kemudian memindahkan Sandy ke RS. Dr. Oen Solo Baru dan sempat dirawat satu minggu.

"Saya daftar pakai pasien umum, pertama saya daftar pake BPJS Kesehatan," tandasnya.

Lalu sejak tanggal 7 Juli lalu Sandy dirawat di RS. St. Elisabeth setelah sebelumnya sempat dirawat di RSUP. Dr. Kariadi Kota Semarang selama sehari. Di RS St. Elisabeth, tindakan medis untuk Sandy yaitu dilakukan debridemen atau pengangkatan jaringan kulit mati dan sudah tujuh kali dilakukan.

"Ini masih dalam perawatan dokter ahli, kami berusaha semaksimal," kata Humas RS. ST. Elisabeth Kota Semarang, Probowatie Tjondronegoro.

Sementara itu untuk biaya perawatan Sandy dan penyembuhannya, setidaknya dibutuhkan biaya sekitar Rp 300 juta. Hingga saat ini Rp 150 juta sudah dikeluarkan untuk pengobatan Sandy, Rp 100 juta diantaranya merupakan bantuan dari Wisma Kasih Bunda.

Untuk biaya selanjutnya, Yuli berharap ada donatur yang bisa membantu putranya itu. Jika bersedia membantu bisa dikirimkan melalui transfer ke Rekening Bank Mandiri Cabang Candi Baru Semarang. Nomor rekening: 136.00.0000.3530 atas nama Sr. Fernanda Sartinah OSF/Sr. Theresia Sri Widowati

"Kita dibantu yayasan Wisma Kasih Bunda Rp 100 juta, selebihnya belum tahu. Kalau lihat dari kasus (luka bakar) yang sama, biayanya sampai Rp 300 juta. Kita sudah berusaha juga menggalang dana sedikit-sedikit," ujar Yuli.

(alg/jor)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads