"Intensifikasi pengawasan pangan terpadu kami lakukan satu bulan sebelum Ramadan, berbeda dengan tahun sebelumnya," ujar Ketua BPOM Roy A. Sparringa saat konferensi pers di Kantor BPOM, Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Kamis (17/7).
Biasanya, hasil razia rutin bernilai ekonomi sekitar Rp 5,3 M. Sedangkan dalam dua bulan terakhir ini nilainya mencapai Rp 21 M.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jenis pangan rusak yang paling banyak ditemukan adalah wafer, biskuit, minuman rasa, makanan ringan, ikan dalam kaleng, jeli, dan mie instan. Sementara, temuan pangan kedaluwarsa terbanyak adalah minuman berperisa, bumbu masak, minuman serbuk, makanan ringan, biskuit, dan minyak goreng.
Adapun, temuan terbanyak untuk pangan TIE adalah biskuit, permen, coklat confectionary, makanan ringan, minuman serbuk coklat, minuman beralkohol, minuman energi, dan kopi. Sedangkan temuan terbanyak untuk pangan TMK label adalah tepung, makanan ringan, bahan tambahan pangan (BTP), olahan daging, olahan buah, roti, coklat, madu, mentega, dan mie instan. Makanan tersebut mayoritas berasal dari Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Roy mengatakan penyebaran makanan kedaluwarsa banyak di daerah terpencil, yaitu di beberapa daerah Papua, Ambon, Palangkaraya, dan Makassar.
"Tahun ini penyebaran makanan kedaluwarsa di Makassar cukup tinggi, padahal tahun-tahun sebelumnya tidak seperti ini," ujar Roy. Ia juga menjelaskan makanan TIE lebih banyak beredar di daerah perbatasan atau wilayah pasar bebas.
Roy mengimbau agar konsumen dapat lebih cerdas dalam membeli produk makanan dan kosmetik. "Apalagi mingu depan sudah ada tunjangan hari raya, daya beli masyarakat meningkat. Cek apakah kemasannya bagus, periksa pula tanggal kedaluwarsanya, serta teliti saat melihat label makanan," kata Roy.
(mad/ndr)











































