Warga Jakarta Bingung Tak Tahu Nasib Keluarganya di Aceh
Rabu, 29 Des 2004 09:45 WIB
Jakarta -
Ratusan bahkan ribuan warga Jakarta yang mempunyai keluarga di Aceh resah dan bingung, tak mengetahui nasib keluarganya di Banda Aceh. Mereka mengkhawatirkan sanak familinya yang sampai sekarang belum ada kabarnya."Keluarga saya tinggal di Lorong Durian, Kalurahan Lembaru, Kuto Alam, Banda Aceh. Saya lihat di televisi daerah itu hancur. Kami bingung, harus bagaimana mencarinya. Telepon adik saya, kakak dan anak saudara di sana gak ada bisa dikontak. Kami bingung harus mencari kemana," kata Adi warga Cawang, Jakarta kepada detikcom Rabu (29/12/2004).Memasuki hari ke empat pasca gempa dan gelombang tsunami yang melanda Sumatera bagian utara, ratusan warga Jakarta yang mempunyai keluarga di Aceh resah. Kecemasan, seperti yang diwakili Adi, menghinggapi mereka yang belum berhasil mengontak keluarganya, baik yang berada di Banda Aceh, Sabang, Meulaboh, Biureun, Pidie dan wilayah-wilayah lainnya.Apalagi, melihat jumlah korban tewas terus bertambah. Dari yang semula 400 orang pada hari kedua, menjadi 27 ribu orang pada hari keempat. "Saya bingung bapak, ibu kakak dan adik saya di Banda Aceh tak ketahuan nasibnya. Saya mau pulang ke masih bingung mencari ongkos pulang. saya berharap teman-teman saya hari ini bisa membantu memberikan tiket buat saya," kata Mahmud, warga Banda Aceh yang tinggal di Pondok Gede.Terputusnya komunikasi menjadi salah satu penyebab kesutan warga Jakarta menghubungi keluarganya di daerah yang terkena bencana. Bagi mereka yang mempunyai uang, langsung ke Bandara Cengkareng untuk segera menuju Banda Aceh mencari keluaragnya dan memberikan bantuan. Ratusan warga Aceh yang tinggal di Jakarta antrean di Bandara Sukarno Hatta sejak Senin siang (27/12/2004), sampai Rabu pagi (29/12/2004) hari ini.Berbagai upaya dilakukan untuk mencari tahu nasib keluarganya. Baik dengan menghubungi sanak famili, mencari tahu ke pusat-pusat informasi, memanfaatkan siaran televisi, maupun datang langsung ke Medan dan Banda Aceh.Dan , rasa kehilangan tak hanya menghinggapi warga Aceh di Jakarta. Banyak juga penduduk dari luar Banda Aceh yang tinggal di sana karena bertugas atau sudah menetap lama. Tewasnya ratusan aparat brimob dan keluarga aparat TNI dan lain-lain yang sedang bertugas di Banda Aceh membuat semua keluarga aparat keamanan yang ditinggalkan was-was. "Saya tak tahu nasib anak saya di Aceh. Terakhir di Meulaboh, saya pasrah. Mau mencari juga tak mungkin, hanya tinggal berdoa semoga selamat," uangkap Ibu Sam warga Cimanggis, Bogor. Salah seorang puteranya, bernama Agus Purwanto sudah 6 bulan bertugas di Aceh.Email yang masuk ke redaksi detikcom juga terus mengalir, menanyakan nasib daerah mereka, karena banyaknya wilayah yang belum tercover. Misalnya Pulau Sabang dan pulau-pulau lainnya di wilayah barat Sumatera. Tak hanya sampai disitu saja, keluhan, kecemasan, rasa was-was tampaknya akan terus menghinggapi mereka yang sampai sekarang tak mendapat kabar dari sanak keluarganya.
(jon/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
