Hal itu disampaikan Ketua Umum Partai Golkar di sela mendampingi Capres Prabowo di acara silaturrahmi dengan pengurus PWNU Jawa Timur serta kiai sepuh dan pimpinan pondok pesantren besari di Jawa Timur, di Aula kantor PWNU Jatim, Jalan Masjid Al Akbar Timur, Surabaya, Rabu (16/7/2014).
"Kenapa mereka mau 9 Oktober, tahu nggak kenapa. Karena mereka ingin siapa pun yang menang, ikut menentukan di kabinet dan parlemen. Jadi itu sebetulnya syahwat kekuasaan, nggak peduli siapa pun yang menang," terangnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka yang omong-omong itu nggak punya hak suara. Nggak perlu ditanggapi, kecuali kalau yang punya suara daerah-daerah yang ngomong," tuturnya.
Ia menegaskan, dirinya tetap menjalankan tugas sebagai Ketua Umum Partai Golkar sampai 2015 sesuai amanat Munas.
"Kalau memang ada perubahan, itu harus sesuai AD/ART partai yaitu, harus diminta daerah-daerah," jelasnya.
Ketika ditanya kemungkinan dirinya akan mencalonkan lagi sebagai ketum, Ical menegaskan, tidak akan maju dan menyerahkan ke kader Partai Golkar lainnya.
"Nggaklah, suruh yang lain-lain. Saya nggak tahu siapa kader yang layak. Tapi semuanya (kader Golkar) layak lah," terangnya.
Disinggung mengenai suara kader Golkar terpecah antara mendukung Prabowo-Hatta dan ada juga pendukung Jokowi-JK, Ical menganggapnya hal yang wajar di tubuh partai besar seperti Golkar. Namun dengan tegas, Golkar akan tetap komitmen dengan koalisi merah putih, meskipun KPU belum mengumumkan siapa pemenang Pilpres 2014 ini.
"Koalisi permanen dan itu kita hormati," tandasnya.
(roi/ndr)










































