"Total suara sah ada 916.786, sedangkan suara tidak sah sebanyak 11.156 suara," kata Ketua KPU Kota Semarang, Henry Wahyono usai rapat rekapitulasi di gedung M Ihsan kompleks Balai Kota Semarang, Jalan Pemuda, Rabu (16/7/2014) petang.
Dari 16 Kecamatan di Semarang, pasangan Jokowi-JK menang di semua kecamatan. Suara terbanyak didapatkan di Kecamatan Pedurungan dengan jumlah 71.319 suara disusul Kecamatan Semarang Barat 65.319 suara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemicunya adalah tiga kelurahan di Kecamatan Ngaliyan memiliki perbedaan data pada C1 dengan D1. Namun setelah dicek, data yang benar dari C1. Kemudian di Kecamatan Gajahmungkur, ada dugaan 17 orang dari luar Semarang mencoblos tanpa menggunakan A5 hanya dengan KTP, padahal masih tercatat di daerah asalnya.
"Bisa juga undangan di daerah asal digunakan orang lain, karena bisa saja tinta di jari hilang kurang dari setengah jam, digosok atau diberi tiner," kata saksi pasangan nomor urut satu, Ramadan.
"Kita perlu bukti kalau yang tinta hilang sebelum setengah jam, bisa dicatat ini," timpal ketua KPU Kota Semarang.
Di akhir rapat, saksi Prabowo-Hatta enggan menandatangani berita acara hasil rapat pleno. Selain karena permasalahan di Kecamatan Gajahmungkur, saksi juga keberatan dengan pemilihan yang digelar di rumah sakit karena terkesan mendadak sehingga sulit mengawasi.
"Tanpa mengurangi rasa hormat, kami tim saksi Prabowo-Hatta tidak akan menandatangani berita acara yang sudah kita saksikan bersama-sama," tandas Ramadan.
Selain itu, tim Prabowo-Hatta juga merasa janggal dengan jumlah DPT yang dianggap bertambah. "DPT di Kota Semarang berjumlah 1.121.000 jiwa. Tapi realisasi di kota Semarang 1.161.687 jiwa. Ada penambahan 39.602 orang," tegas Ramadan.
(alg/try)











































