"Kami dapat informasi itu dari saksi-saksi, saksi itu sudah temukan adanya pelanggaran sejak di PHPU, dimana adanya pemilih yang tidak domisili di tempat TPS itu, boleh memilih tanpa dilengkapi formulir A5. Kejadian itu dicatat oleh saksi kita dan ternyata setelah kita kompilasi, kita kumpulkan, ada 5800 sekian TPS," kata anggota TMPT, Didi Supriyanto di Hotel Kartika Chandra, Jakarta Selatan, Rabu (16/7/2014).
Didi mengatakan, pihaknya telah mengajukan laporan temuan ini ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Dia berharap Bawaslu segera memberikan rekomendasi ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk dilakukannya pemungutan suara ulang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu pada jumpa pers sebelumnya, Pakar Matematika Tras Rustamiji mengakuโ menemukan kejanggalan pada quick count Saiful Mujani Research Center (SMRC). Menurutnya, perhitungan awal quick count SMRC-LSI sejak pukul 11.30 WIN s/d 13.50 WIB terlihat wajar dengan posisi Prabowo-Hatta 52.94% dan Jokowi JK 47.06%, dengan data masuk sebanyak 13.78%.
"Saat itu sebetulnya kurva sudah mulai stabil. Tiba-tiba pada pukul 13.19 WIB terjadi grafik refresh, dan hasilnya berbalik 180 derajat atau data hasil sulap, Jokowi-JK berbalik unggul dengan 52.7% atau naik pesat sebesar 5.64%. Prabowo-Hatta turun menjadi 47.3% atau turun drastis 5.64%. Padahal data baru yang masuk hanya bertambah 3.87%. Pola yang sama juga dilakukan Lembaga Survey Indikator," katanya.
(idh/mpr)











































