"Yang penting adalah meredam terjadinya konflik. Maka berikanlah kesejukan kepada masyarakat," kata peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro kepada detikcom, Rabu (16/7/2014).
Menurutnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang masih belum berpijak pada rasionalitas, aspek dukungan emosional cenderung lebih menonjol. Maka potensi konflik akan tetap ada dalam masyarakat yang gampang terpicu emosinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masyarakat butuh teladan mewujudkan suasana kondusif. Teladan itu harus muncul, tak lain dan tak bukan harus dari capres-cawapres yang bersangkutan.
"Pak prabowo kan sudah menyatakan dia akan menerima apapun keputusan rakyat. Dia akan mengikuti apa yang dipercayakan masyarakat. Tapi kita belum mendengar Pak Jokowi dan JK menyatakan hal yang sama. Kalau mau meredam pengikut, ya harus fair," tuturnya.
Jikapun dinilai ada kecurangan, maka jalur yang benar harus ditempuh masing-masing kubu. Kedua kubu haruslah mencegah agar polemik kecurangan tidak sampai melebar ke kerusuhan jalanan dan konflik berbahaya. Upaya hukum merupakan jalan absah untuk melawan kecurangan itu.
"Kalau ada pelanggaran ya dimasukkan ke ranah hukum. Karena kalau diekskusi di lapangan itu kan gawat," tutur Siti.
(dnu/trq)










































