Beberapa hari ini di media sosial ramai tentang situs kawalpemilu.org. Situs itu dibuat sekelompok anak muda untuk menjawab tantangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) agar mengawasi kinerja KPU.
"Situasi membutuhkan ini, karena Pilpres sekarang, ada 2 kubu, Indonesia terbelah, takut ada perpecahan. Kita mendengar panggilan dari KPU dan Presiden SBY, kawal pemilu bersama. Kita bisa tahu hitungannya benar, tahu kecurangan. Kedua belah pihak kalau tahu nggak ada kecurangan maka siapapun akan legowo menerima hasilnya," kata Ainun Najib (28), koordinator crowd sourcing kawalpemilu.org saat berbincang dengan detikcom, Rabu (16/7/2014).
Ainun menambahkan kedua kubu yang saling klaim melakukan Quick Count bila tidak bisa diklarifikasi ke publik, maka akan membuat publik terbelah dan memicu perdebatan yang tak berkesudahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Situs ini dibikin 2 teman Ainun, mulai hari Kamis (10 Juli) atau Jumat hingga selesai Minggu pagi. Kemudian, situs itu pada Minggu pagi dicoba di kalangan teman-teman dekat Ainun dan dirilis ke grup Facebook yang terbatas dari 4 orang. Kemudian dari sedikit orang, kemudian dari mulut ke mulut menyebar pada teman dari teman, hingga kini terkumpullah relawan sekitar 700 orang.
Bagaimana cara kerjanya?
2 Teman Ainun yang tidak mau disebutkan namanya itu membuat situs dan software yang bisa mendownload formulir C1 dari situs KPU (kpu.go.id). Kemudian para relawan itu meng-crop formulir C1 itu pada angka perolehan suara nomor urut 1 dan nomor urut 2 dan total suara sah. Kemudian isi dari formulir C1 itu diinput ke dalam situs kawalpemilu.org mulai dari per TPS, kemudian otomatis menampilkan jumlah per kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi hingga tingkat nasional.
"Cepat kok, rata-rata 1 orang entry data itu sekitar 5 detik. Untuk update kita perlu run programnya, kemarin agak sedikit keterlambatan jadi data KPU sudah 97% kita masih 90%," tuturnya.
Ainun juga mengatakan bahwa 700 relawan entry data yang berasal dari kalangan 'teman dari teman' ini diseleksi olehnya dan beberapa kawannya.
"Kita selektif, memilih orang-orang yang jujur, terpercaya dan nggak bakal ngawur. Kita seleksi yang memberikan message ke FB kita, mengecek profil orang-orangnya kan terlihat dari pendidikannya, universitas mana. Jadi kalau ada orang lain yang bukan teman kita, kita interview dikit, pakai chatting," jelas Ainun.
Dari Facebook 'Kawal Pemilu 2014' memang diumumkan secara terbuka siapa saja yang berminat menjadi relawan. Syaratnya relawan ini terbuka baik bagi pendukung nomor 1 ataupun nomor 2. Wajib menjunjung tinggi nilai demokrasi yang jujur dan bersih, memakai akun Facebook asli, tetap menginput data kendati pilihannya tidak menang.
Setelah terkumpul 700 orang, lantas mereka dikumpulkan di grup Facebook yang menurut Ainun 'rahasia'. Melalui grup Facebook ini mereka membagi tugas membagi ke dalam 35 provinsi hingga ke kelurahan.
"Semua ada di FB, baginya nge-tag-nge-tag begitu. Mereka dibagi masing-masing provinsi, kemudian membagi tugas. Kita lebih ke terserah saja sih mereka mau daerah mana saja. Kalau sudah ada yang dikerjain kan ketahuan, kalau masih kosong relawan bebas masuk. Mungkin sudah tinggal sedikit lagi mereka selesai," jelas lulusan Computer Engineering Nanyang Technological University (NTU) tahun 2007 yang sudah 7 tahun bekerja di perusahaan IT di Singapura ini.
Hingga pukul 13.21 WIB, situs kawalpemilu.org sudah berhasil merekapitulasi formulir C1 dari KPU sebesar 96,34% atau 425.610 TPS. Hasilnya, pasangan nomor urut 1 Prabowo-Hatta mendapatkan 47,16% atau sekitar 55.461.427 suara. Dan pasangan nomor urut 2 Jokowi-JK mendapatkan 52,83% atau 118.031.811.
(nwk/asy)











































