PDIP menurut Pramono memiliki pengamalan gagal membangun koalisi sejak 2004. Saat itu PDIP bersama Partai Golongan Karya membentuk koalisi kebangsaan. Meraka sukses mengantar politisi Golkar Agung Laksono menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat.
Namun koalisi ini kemudian bubar saat Megawati Soekarnoputri yang ketika itu berpasangan dengan Hasyim Muzadi kalah dalam pemilihan presiden dan wakil presiden 2004. Pramono pun meramalkan bahwa koalisi permanan Merah Putih yang dideklarasikan kubu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa tak akan berumur lama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Pramono apabila koalisi yang tergabung dalam oposisi tidak bisa memenuhi tujuan bersama maka bakal bubar dengan sendirinya. Pramono pun memprediksi kalau Jokowi-JK dinyatakan menang oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan meski ada gugatan ke Mahkamah Konstitusi, maka Koalisi Permanen ini tidak bakal bertahan lama.
"Saya meyakini setelah tanggal 22 Juli ini katakanlah Pak Jokowi-JK menang, saya yakin Koalisi Permanen umurnya tidak panjang. Tapi, kalau Pak Prabowo-Hatta menang, persoalannya jadi beda," sebut Wakil Ketua DPR itu.
Pramono mengakui saat ini pihaknya sudah menjalin komunikasi dengan beberapa partai yang berada di Koalisi Permanen. Namun, dia enggan menyebut nama partainya. Tapi, yang jelas menurut Pramono, komunikasi yang dijalin antara partai tersebut dengan PDIP berjalan baik.
"Sekarang pun sudah ada kasak kusuk ada beberapa partai yang ingin bergabung. Ya itu adalah, enggak etis saya sampaikan," tuturnya.
(hat/erd)










































