βGolkar tidak pernah berada di luar kekuasaan, sehingga pasti akan memainkan politik baru,β kata pengamat politik dari Universitas Airlangga, Surabaya, Haryadi, saat dihubungi, Selasa (15/7/2014).
Dinamika di internal Partai Golkar kini mulai menghangat. Terlebih hasil penghitungan cepat oleh mayoritas lembaga survei kredibel sudah menunjukkan bahwa yang unggul dalam Pilpres 9 Juli lalu adalah pasangan Jokowi-JK.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, deklarasi itu oleh beberapa pengamat diragukan akan efektif. Sebab saat ini di internal Golkar sudah mulai mengalir wacana Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Golkar dipercepat, dengan agenda mengevaluasi kepemimpinan ketua umum Aburizal Bakrie.
Menurut Haryadi, Ical akan didesak untuk dicopot dari jabatannya melalui mekanisme Munaslub karena berbagai evaluasi dan penilaian atas ketidaktepatan langkah politik partai yang dipimpinnya.
βDugaan saya akan dimulai dengan hiruk-pikuk yang mengarah pada penggantian ketum Golkar. Mekanismenya munaslub dipercepat, karena kaitannya untuk nempel pada kekuasaan baru,β ujarnya.
Soal kemudian apakah kubu Jokowi-JK akan menerima kehadiran Partai Golkar, kata Haryadi, apapun keputusannya nanti sangat mempengaruhi peta perpolitikan ke depan.
Menurutnya, jika kemudian pada ujungnya Jokowi-JK menolak koalisi dengan Golkar, maka itu menjadi pendidikan politik berharga baik bagi Gokkar maupun bagi bangsa Indonesia.
(mpr/fdn)











































