Tak Punya Sejarah Oposisi, Golkar Diyakini akan Tinggalkan Koalisi Prabowo

Tak Punya Sejarah Oposisi, Golkar Diyakini akan Tinggalkan Koalisi Prabowo

- detikNews
Selasa, 15 Jul 2014 22:51 WIB
Tak Punya Sejarah Oposisi, Golkar Diyakini akan Tinggalkan Koalisi Prabowo
Jakarta - Partai Golkar diprediksi akan mengalami dinamika internal yang berujung pada suksesi kepemimpinan untuk mengubah peta politik pasca penetapan hasil Pilpres 22 Juli nanti. Dengan sejarah Partai Golkar yang tidak pernah menjadi oposisi, maka suksesi kepemimpinan di Partai Golkar akan diarahkan untuk mendukung pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

β€œGolkar tidak pernah berada di luar kekuasaan, sehingga pasti akan memainkan politik baru,” kata pengamat politik dari Universitas Airlangga, Surabaya, Haryadi, saat dihubungi, Selasa (15/7/2014).

Dinamika di internal Partai Golkar kini mulai menghangat. Terlebih hasil penghitungan cepat oleh mayoritas lembaga survei kredibel sudah menunjukkan bahwa yang unggul dalam Pilpres 9 Juli lalu adalah pasangan Jokowi-JK.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa elite Golkar memang sejauh ini selalu menegaskan bahwa koalisinya bersama pendukung Prabowo-Hatta akan terus dilanjutkan. Bahkan, Senin (14/7) kemarin mereka mendeklarasikan koalisi permanen di Tugu Proklamasi.

Namun, deklarasi itu oleh beberapa pengamat diragukan akan efektif. Sebab saat ini di internal Golkar sudah mulai mengalir wacana Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Golkar dipercepat, dengan agenda mengevaluasi kepemimpinan ketua umum Aburizal Bakrie.

Menurut Haryadi, Ical akan didesak untuk dicopot dari jabatannya melalui mekanisme Munaslub karena berbagai evaluasi dan penilaian atas ketidaktepatan langkah politik partai yang dipimpinnya.

β€œDugaan saya akan dimulai dengan hiruk-pikuk yang mengarah pada penggantian ketum Golkar. Mekanismenya munaslub dipercepat, karena kaitannya untuk nempel pada kekuasaan baru,” ujarnya.

Soal kemudian apakah kubu Jokowi-JK akan menerima kehadiran Partai Golkar, kata Haryadi, apapun keputusannya nanti sangat mempengaruhi peta perpolitikan ke depan.

Menurutnya, jika kemudian pada ujungnya Jokowi-JK menolak koalisi dengan Golkar, maka itu menjadi pendidikan politik berharga baik bagi Gokkar maupun bagi bangsa Indonesia.

(mpr/fdn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads