Provinsi Papua menjadi kota yang ditunjuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk meresmikan kurikulum 2013, tahun ajaran 2014-2015. Bukan tak mungkin, beragam kendala mengenai kurikulum baru ini tak dirasakan berbagai pihak, termasuk Provinsi Papua yang dikenal memiliki kondisi topografi yang sulit serta akses yang kurang memadai.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M. Nuh, mengakui bahwa tantangan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Papua cukup sulit. Namun, dia juga mengakui bahwa dari tahun ke tahun, tingkat pendidikan di Provinsi paling timur Indonesia ini selalu mengalami peningkatan.
M Nuh juga mengatakan, banyak jalan yang dapat dilakukan unuk mengatasi beragam masalah yang dihadapi untuk mengimplementasikan kurikulum 2013 di tanah Papua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Nuh, masyarakar yang cerdas memiliki beberapa ciri. Diantaranya adalah pola pikir yang selalu mengarah pada solve the problem, bukan mempersoalkan persoalan.
Menteri mencontohkan dengan distribusi tenaga pengajar di sekolah yang berada di puncak gunung Papua. Alih alih menyalahkan kondisi topografi yang sulit dijangkau, lebih baik mencari solusi bagaimana mendistribusikan tenaga pengajar, walaupun sekolahnya berada di puncak gunung sekalipun.
"Jadi, persoalan jangan disambut dengan persoalan, tetapi how find the solution, untuk menyelesaikan persoalan," kata Nuh yang disambut riuh tepuk tangan ratusan guru.
Sementara ciri kedua, untuk menyelesaikan persoalan, orang yang cerdas hanya menggunakan biaya rendah (cost efectiveness). Ketiga, untuk menyelesaikan persoalan dia tidak menabrak rambu rambu dan aturan yang berlaku. Yang terakhir, kata Nuh, adalah menyelesaikan persoalan tepat pada waktunya.
"Puncak peringatan Hardiknas tahun ini diadakan di Sorong, Papua Barat. Mengapa? Karena kita cinta Papua. Demikian juga dengan peluncuran implementasi kurikulum 2013 tahun ajaran 2014-2015. Oleh karena itu, tidak ada lagi ke depan, ada pandangan tentang perbedaan sangat tajam mengenai kualitas pendidikan dimanapun, karena kita memiliki tekad yang sama untuk memajukan anak bangsa ini," tegas Nuh.
Nuh juga menyinggung dana otonomi khusus pendidikan yang dianggarkan Papua sebesar 30 persen. Menurutnya, hal tersebut sangat luar biasa, menunjukkan bahwa Papua memiliki keinginan yang besar untuk memperbaiki mutu pendidikan di negerinya.
"Tekad kita untuk meneguhkan Papua yang cerdas merupakan sesuatu yang luar biasa dan mulia, dan kami akan memberikan dukungan penuh. Kurikulum 2013 ini sejatinya memiliki esensi utk membangun anak anak kita memiliki 3 kompetensi sekaligus, pendidikan, keterampilan, dan sikap," ungkapnya.
"Kita ingin membangun karakter anak anak kita dgn 5 karakter dasar, yaitu jujur, kasih sayang, disiplin, bersih, dan toleransi," tutup Nuh.
Acara ditutup dengan peresmian kurikulum 2013 untuk tahun ajaran 2014-2015, sekaligus penyerahan secara simbolis buku pelajaran dengan kurikulum 2013 kepada perwakilan siswa SD, SMP dan SMA.
(rni/fiq)











































