Ketiga mahasiswa itu Lukman Azis (21), Nisa Alfilasari (20) dan Clara Arha (20) mula-mula memunguti kulit pisang yang menjadi limbah, baik di tukang gorengan maupun dari agroindustri di Batu, Malang.
Limbah kulit pisang yang telah disortasi cukup diriss kecil untuk kemudian dikukus selama 10 menit. Tahap selanjutnya adalah pengeringan dan penepungan. Tepung inilah yang kemudian diekstraksi dengan metode padat-cair pada suhu 90 Celcius menggunakan pelarut asam dari jeruk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Proses pembuatan pektin ini juga cukup mudah dan dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan rumah tangga biasa," tutur Lukman saat berbincang dengan detikcom, Selasa (15/7/2014).
Tiap 3,5 kg limbah kulit pisang, bisa menghasilkan 500 gram tepung pisang. Tiap 25 gram tepung pisang bisa menghasilkan 4-5 gram pektin.
Permen kenyal yang mengandung pektin ini kemudian diujicobakan pada tikus-tikus percobaan yang sudah diinjeksi kandungan kolesterol tinggi hingga menderita jantung koroner. Terbukti kandungan kolesterol pada tikus-tikus itu setelah memakan marshmallow berpektin jadi turun kolesterolnya.
"Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pektin berbahan limbah kulit pisang selama dua minggu mampu menurunkan kadar kolesterol sampai 52 persen," jelas Lukman.
Selama ini Indonesia mengimpor pektin hingga berton-ton setiap tahunnya. Padahal harga pektin tidak murah, Rp 1 juta per gramnya. Mengekstrak pektin dari kulit pisang bisa menekan harga pektin menjadi Rp 12 ribu per gram.
Hasil dari penelitian di bawah bimbingan dosen Nur Ida Panca STP, MP ini akan dinilai Ditjen Dikti yang pemenangnya akan diumumkan Agustus 2014 nanti. Lukman dkk ini juga berencana mempresentasikan penemuannya dalam konferensi ilmiah di suatu kampus di AS pada November 2014 nanti. Dia juga berharap temuannya bisa dimuat di jurnal ilmiah internasional.
"Ini adalah penemuan terbaru, untuk kesehatan ke depannya bisa kerjasama dengan pihak terkait industri pangan atau pengolahan obat ikut bantu kami agar bisa dipasarkan secara meluas oleh masyarakat umum. Beberapa pihak di Fakultas Kedokteran (Unibraw) sudah ada yang ingin membantu untuk memproduksi massal," ungkap Lukman.
(nwk/nrl)











































