Pengungsi di Banda Aceh Mulai Stres

Pengungsi di Banda Aceh Mulai Stres

- detikNews
Rabu, 29 Des 2004 00:00 WIB
Banda Aceh - Hari kedua pasca terjadinya gempa dan gelombang tsunami, ratusan pengungsi di Banda Aceh sudah mulai terlihat stres dan depresi berat. Berteriak, menangis maupun bernyanyi di pinggir jalan raya sudah mulai menjadi fenomena di ibukota serambi mekah ini.Dalam pantauan detikcom, Selasa (28/12/2004) malam, pemandangan warga yang terlihat sudah mulai terganggu jiwanya tampak berada di pinggir jalan. Belum lagi puluhan jasad korban yang sudah tak bernyawa masih banyak yang tergeletak di tengah jalan.Bau busuk akibat mayat yang belum dievakuasi ini juga makin memperparah kondisi Banda Aceh. Tak sedikit warga yang sengaja berpindah ke pinggir kota untuk menghindari bau busuk ini.Pihak TNI maupun PMI sendiri terlihat kesulitan untuk mengevakuasi mayat. Pasalnya, tempat penampungan mayat sudah tidak memadai lagi. Markas TNI di Lamboru, RS Kesdam dan RS Sakinah sudah tidak mampu menampung mayat yang berjumlah ratusan tersebut.Kondisi gelap gulita hingga kini masih menyelimuti seluruh kota Banda Aceh. Hanya ada beberapa tempat saja yang terlihat listriknya menyala seperti di Pendopo Gubernuran yang memang memiliki genset.Seribuan pengungsi juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan BBM dan beras. Untuk membeli bensin misalnya, setiap orang hanya diperbolehkan untuk membeli sebanyak Rp 5 ribu. Belum lagi, ada penjual yang nakal yang sengaja mengoplos bensin dengan minyak tanah.Warga di pusat kota Banda Aceh mengaku kesulitan untuk mendapatkan beras. Setiap warga hanya diperbolehkan membeli beras sebanyak 2 bambu (sekitar 3 kilogram).Di pasar-pasar, beras sudah sulit didapatkan. Padahal, bantuan sembako yang datang ke pendopo terus mengalir.Hingga kini, nasib beberapa wartawan masih belum diketahui. Taufan Nugraha wartawan Radio 68H, Najamudin Umar wartawan Kompas dan Riznal wartawan Jawa Pos keberadaannya masih belum jelas. (ton/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads