"Kami cinta dengan Republik ini. Kami ingin yang terbaik buat bangsa dan kami mengimbau para kader untuk tidak menggunakan bahasa yang menghangatkan suasana. Saya kira itu (pembicaraan dengan) Din Syamsuddin, maksud kami adalah menyambung silaturahmi. Untuk menjaga kedamaian demi kebaikan dan kemaslahatan bangsa dan negara," kata Prabowo yang didampingi Din, kepada wartawan usai pertemuan di PP Muhammadiyah, Jl Menteng Raya, Jakpus, Selasa (15/7/2014).
Dalam pertemuan sekitar 30 menit itu, Prabowo dan Din Syamsuddin banyak membahas soal Pilpres 2014 yang tinggal menunggu hasil penghitungan suara oleh KPU.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terkait dengan Pemilu dan Pilpres kita tahu bahwa pemilu adalah cara untuk mencapai kedamaian politik. Pemilu atau Pilpres adalah cara beradab untuk mencapai keberadaan politik. Jangan sampai jadi kebiadaban politik karena hanya ada dua pasangan yang head to head. Ini bukan perang, bukan perang Badar atau Uhud, ini adalah demokrasi," jelas Din.
Oleh karena itu, Din meminta agar seluruh elemen masyarakat bersabar menunggu proses penghitungan suara. Nanti tanggal 22 Juli seluruh rakyat juga pasti akan tahu siapa yang akan memimpin Indonesia kelak.
"Mari kita tunggu hasil hitung resmi. Bahwa ada quick count itu sah sah saja. Kalau ada yang menyambutnya sebagai kemenangan kalau sebatas wajar tidak apa. Sekarang saya kira kita harus menunggu 22 Juli. Kita siap menang dan siap kalah," tambah Din.
"Siapa pun yang terpilih marilah ikuti aturan main yang baik. Jangan contoh negara lain," timpal Prabowo yang mengenakan kemeja batik.
Prabowo datang ke PP Muhammadiyah didampingi Hary Tanoesoedibjo. Tak lama setelah Prabowo tiba, Ketum Golkar Aburizal Bakrie datang menyusul.
(kha/nrl)











































