"Saya lihat itu betul. Prediksi Yusril harus dihormati. Dia itu pakar hukum tata negara. Sama kayak saya, kami tuh ahli di bidang sosial. Ilmu sosial itu tidak ada yang permanen. Kalau di exsact itu dua tambah dua jadi empat, tapi di politik bisa jadi delapan. Ini saya lihat bisa enggak kuat dan keropos karena pilih kubu Jokowi-JK," ujar Ruhut saat dihubungi detikcom, Selasa (15/7/2014).
Dia menilai sejumlah partai yang tergabung di dalam Koalisi Permanen tidak bakal kuat berada di posisi oposisi kalau Prabowo-Hatta nanti kalah. Misalnya dia menyebut Partai Golkar dalam sejarahnya tidak bakal bisa di luar pemerintahan. Adapun partai lain seperti PKS dianggapnya sebagai partai yang hanya menggunting dalam lipatan atau bisa menusuk dari belakang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lanjutnya, Ruhut pun punya keyakinan kalau pasangan Jokowi-JK bakal menang dengan selisih di atas lima persen. Dia menganggap adanya lembaga survei yang merilis quick count dengan hasil memenangkan Prabowo-Hatta dianggap tidak kredibel.
"Kita lihat saja tanggal 22 Juli nanti diumumin KPU. Kita bakal menang telak di atas lima persen. Soal quick count, harus dilihat mana lembaga survei yang kredibel mana yang enggak," sebutnya.
(hat/mpr)











































