Ada yang diikuti atau dikuntit oleh seorang intel. Ada yang ditolak masuk ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) karena dianggap salah satu pendukung pasangan capres-cawapres hingga ditraktir makan-makan gratis oleh seorang intel.
"Berbagai temuan pelanggaran selama masa kampanye, masa tenang hingga pencoblosan semua yang mencatat atau para mahasiswa yang jadi anggota tim pemantau," ungkap Konsultan TIPP UKDW, Dhyana Paramita kepada wartawan di kampus UKDW Jl Dr Wahidin Yogyakarta, Senin (14/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sempat mereka takut dan khawatir karena diikuti dan ditanya macam-macam," katanya.
Tidak hanya itu, lanjut dia, ada juga mahasiswa yang menceritakan bertemu dengan intel. Setelah kenal dan akrab, mereka malahan mentraktir makan minum gratis mahasiswa yang jadi pemantau tidak jauh dari lokasi.
"Ini ada juga yang lucu, mahasiswa cerita ada intel yang mengajak makan-makan gratis," kata dia sambil tertawa.
Selain itu, ada mahasiswa yang sempat ditolak masuk ke TPS dan tempat kampanye karena mereka dikira salah satu pendukung pasangan capres-cawapres. Meski sudah menerangkan bila mereka adalah pemantau, tetap saja dicurigai ketika berada di tempat itu.
Dia menambahkan saat pilpres ini jarang sekali ditemukan praktek money politics. Hal itu bukan karena tidak ada atau tidak terjadi praktek tersebut. Namun para pelaku lebih canggih saat beroperasi di lapangan.
"Mereka baik dari dua pasangan calon tersebut sama-sama bermain cantik atau bagus sehingga kami susah menemukan atau menangkapnya," katanya.
Namun dari pengalaman dan hasil rekaman video yang dilakukan tim pemantau ada beberapa orang yang diduga menjadi operator untuk membagi-bagikan uang. Semua pasangan melakukan namun pemantau tidak menemukannya.
"Dari hasil rekaman video yang kami punya, kami sampai bisa mengidentifikasi kalau ada seorang wanita dengan membawa tas mahal dan besar. Dia mungkin salah satu pelakunya," pungkas Mita, panggilan akrab Dhyana Paramita.
(bgs/try)











































