Kepada Mubarok yang bersaksi dalam persidangan, Anas menanyakan adanya permintaan dari sejumlah orang yang meminta dirinya mengundurkan diri dari pencalonan ketum yang juga diikuti Andi Mallarangeng dan Marzuki Alie.
Mulanya Anas bertanya mengenai pertemuan dirinya dengan Sudi Silalahi yang juga dihadiri Mubarok dan Saan Mustopa. "Ada dua pertemuan," kata Mubarok di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (14/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu Sudi mengatakan SBY tidak akan mencampuri kongres Demokrat. "Kemudian ketika sudah di dalam kongres saya dipanggil Pak Sudi Silalahi dna meminta Anas mengundurkan diri dari pencalonan untuk memilih Andi Mallarangeng supaya bisa dipilih secara aklamasi. Anas cukup jadi sekjen. Ini hasi kajian intelijen, katanya begitu," ujar Mubarok.
Saat itu Anas menyanggupi permintaan Sudi namun dengan syarat permintaan tersebut disampaikan langsung kepada ketua-ketua DPC yang mendukungnya. "Lalu saya ingatkan kalau ada seperti itu ada intervensi, justru Pak SBY yang akan malu," lanjut Mubarok.
Anas kemudian menayakan ke Mubarok soal pertemuan dirinya dengan SBY dan Sudi yang disebut Anas juga kembali meminta dirinya mundur. "Saya tidak tahu," jawabnya.
Pertanyaan yang sama kembali ditanyakan ke Mubarok soal permintaan mundur dari pencalonan yang disampaikan Djoko Suyanyo, Jero Wacik, EE Mangindaan dan Syarief Hasan.
"Apakah saudara tahu para menteri itu diperintah SBY?" tanya Anas. "Tidak tahu, yang tahu hanya Pak Sudi yang minta Anas mundur," ujar Mubarok.
Terkait dakwaan jaksa KPK, Anas kepada Mubarok menanyakan dana-dana yang disebut diberikan untuk uang saku, transportasi ketua DPC dan dana entertainment para koordinator wilayah tim pemenangannya. "Saya tidak tahu baru dengar sekarang," kata Mubarok.
"Apakah pernah saya memerintahkan tim memberikan uang saku?" tanya Anas langsung dijawab tidak pernah oleh Mubarok dalam persidangan.
(fdn/jor)











































