Ngabuburit di Jakarta Sambil Menyusuri Peninggalan Deandels

Ngabuburit di Jakarta Sambil Menyusuri Peninggalan Deandels

- detikNews
Sabtu, 12 Jul 2014 18:29 WIB
Ngabuburit di Jakarta Sambil Menyusuri Peninggalan Deandels
Jakarta - Menunggu waktu berbuka biasanya banyak dihabiskan mengunjungi pusat pusat perbelanjaan atau sekedar jalan jalan keliling kota, bersama komunitas bambu, kita bisa menikmati ngabuburit dengan melihat Jakarta melalui bangunan yang ditinggalkan Deandels sang Gubernur Jendral Belanda di tanah Batavia.

Wisata kali ini akan mengitari sekitaran daerah jakarta pusat. Jika kebanyakan orang mengetahui Jakarta tempo dulu hanya seputaran kota tua dan fatahillahnya, maka di wisata ini kita bisa mengetahui sisi lain Jakarta lama.

Acara ini sendiri dimulai sekitar pukul 16.00 berkumpul di Gedung Filateli (Kantor Pos Lama). Dipimpin Sejarahwan J.J Rizal yang memandu peserta yang tidak lebih dari 20 orang ini untuk menjelaskan mengenai tempat tempat yang akan dikunjungi nanti. Dimulai dari Gedung Filatelli, dulunya gedung warisa Telefon en Telegraf Hindia Belanda, perancangya John van Hoytema. Didirikan antara 1912-1929 pada masa Deandels gedung ini digunakan sebagai kantor pengiriman barang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian berlanjut ke pasar baru, J.J Rizal menjelaskan bahwa kawasan ini dibangun tahun 1820 dan konon tempat ini adalah tempat berdagang bagi etnis tionghoa yang diisolir dari benteng batavia dan toko lama seperti toko melati dan toko jam Tjung Tjung masih berdiri hingga sekarang

Tak jauh dari pasar baru terdapat Gedung Kesenian Jakarta, yang unik menurut J.J Rizal dulunya disini pernah didatangi Charlie Chaplin dan bahkan saat pembukaannya dipentaskan drama Othello karya Shakespeare yang sedang masyur.

"Gedung ini tahun 1926 pernah dijadikan tempat kongres pemuda pertama juga rapat pertama BPUPKI" ujar Rizal.

Dilanjutkan ke Istana Deandels yang sekarang menjadi gedung Kementrian Keuangan yang sangat kental dengan gaya empire, gedung ini awalnya akan dijadikan museum tapi hingga kini belum ada tanda tanda akan difungsikan sebagai museum.

Berlanjut ke lapangan banteng, lapangan yang sudah berganti nama mulai dari Paviljoensveld, lapangan waterlooplein hingga lapangan singa dan kini terkenal dengan lapangan bantengnya.

Tak jauh dari lapangan ini terdapat Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal yang merupakan lambang pluralisme di indonesia. Ada satu peninggalan belanda yang masih difungsikan dan vital perannya mengatasi banjir Jakarta yaitu pintu air sluisburg. Di sungainya yang dulu jernih sering terdapat pemuda pemudi Belanda yang pacaran menggunakan semacam gondola menyusuri sungai tersebut.

Deandels sendiri merupakan Gubernur Jendral Belanda yang terhitung sebentar periodenya namun ia termasuk berhasil mengatur Hindia Belanda menjadi lebih baik terutama dari kasus korupsinya. Kuncinya ia memberlakukan gaji yang besar bagi para aparatur di birokrasi dengan gaji yang besar baik yang pribumi maupun Belanda.

(rvk/rvk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads