Poempida Hidayatulloh, kader muda Golkar yang dipecat partainya karena mendukung Jokowi-JK, mendukung agar Musyawarah Nasional (Munas) Golkar dipercepat. Poempida ingin kepengurusan Golkar segera berganti.
"Sebenarnya keinginan untuk terjadinya Munas bukan dari teman-teman muda saja, tapi juga dari banyak pihak terutama daerah," kata Poempida saat berbincang dengan detikcom, Jumat (11/7/2014).
"Untuk waktunya mereka sampaikan lebih cepat, lebih baik," imbuh Poempida menirukan slogan kampanye JK pada Pilpres 2009.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pasca quick count, mereka-mereka yang di daerah sudah tahu lembaga survei mana yang dapat dipegang. Dan tidak perlu ditunggu lama lagi, mereka sudah menunjukkan dukungannya pada Jokowi-JK dan aspirasinya untuk segera Munas," papar jubir JK ini.
Kemenangan JK yang mendampingi Jokowi, versi quick count, disebut Poempida menimbulkan harapan untuk terjadinya perubahan di Golkar.
"Mereka kemarin itu sebenarnya banyak kecewa dengan langkah DPP mendukung Prabowo-Hatta. Ini adalah bentuk luapan yang terpendam dan sekarang mereka melihat harapan," ujarnya.
Golkar mulai bergejolak. Ketua DPP Golkar Firman Subagyo membenarkan soal adanya sejumlah kader yang mewacanakan untuk mempercepat Munas yang sedianya digelar pada Oktober 2015.
"Agenda Munas belum ada. Memang ada kelompok yang melakukan wacana itu, tapi AD/ART untuk masa jabatan sekarang diberi waktu di 2015, atau mundur satu tahun agar tidak berbarengan dengan Pilpres," kata Firman Sugabyo di Kompleks DPR RI, Kamis (10/7).
Masalah yang timbul di tubuh Golkar diakui Firman sudah muncul sebelum Pilpres 2014 digelar. Hal tersebut diawali dengan kekecewaan kader Golkar atas koalisi yang dipilih oleh Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie. Beberapa kader bahkan mengalihkan dukungannya ke pihak lawan, seperti anggota DPR RI dari Golkar Poempida Hidayatullah dan Nusron Wahid.
(trq/nrl)











































