Tokoh Lintas Agama Serukan Pemerintah Netral dan Peserta Pilpres Ksatria

Tokoh Lintas Agama Serukan Pemerintah Netral dan Peserta Pilpres Ksatria

- detikNews
Kamis, 10 Jul 2014 15:31 WIB
Jakarta - Para tokoh lintas agama berkumpul untuk menyikapi hasil pemilihan presiden 9 Juli 2014. Mereka menyerukan agar pemerintah SBY selaku penyelenggara pemilu bersikap netral dan para peserta berjiwa ksatria.

Konferensi perse dilaksanakan di gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah jalan Menteng Raya Jakarta Pusat (10/7). Hadir dalam konferensi ini para tokoh agama seperti Din Syamsuddin (Muhammadiyah), Slamet Effendy Yusuf (NU/MUI), M Iqbal Sullam (NU), Andreas Yewanga (PGI), Pdt Gomar Gultom (PGI), Rusli Tan (Walubi), WS Wawan Wiratma (Matakin), dan Nyoman Udayana (Parisada Hindu Dharma Indonesia). Acara dilangsungkan dari pukul 13.45-14.30 WIB.

Dalam acara tersebut, Andreas Yewanga membacakan pernyataan sikap tokoh lintas agama dalam menyikapi hasil pilpres. Para tokoh lintas agama meminta seluruh komponen masyarakat Indonesia untuk bersyukur atas pilpres yang berlangsung lancar dan tertib. Kemudian para tokoh ini mengapresiasi seluruh pihak yang ikut menyukseskan pilpres.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Keberhasilan pilpres 2014 adalah kemenangan bagi seluruh rakyat Indonesia," ucap Andreas.

Para tokoh agama ini kemudian meminta para penyelenggara pemilu untuk melaksanakan penghitungan secara jujur, adil, bertanggung jawab, profesional, transparan, dan tepat waktu hingga 22 Juli nanti, dan menghindari segala bentuk kecurangan dan tekanan dari pihak manapun.

Andreas melanjutkan, para tokoh agama sangat menghargai langkah dan kinerja pemerintah, aparatur negara, TNI dan Polri, dan penegak hukum atas pilpres yang aman. Selain itu, para tokoh agama mengharapkan presiden SBY dan jajarannya untuk bersikap netral, profesional, dan menjunjung tinggi hukum demi demokrasi yang bermutu.

"Kami juga meminta kepada seluruh peserta pilpres untuk berjiwa kesatria, menerima apapun hasil pilpres, siap menang dan kalah, serta menahan diri dari sikap yang melampaui batas dan dapat menimbulkan pertentangan serta perpecahan," lanjut Andreas.

Terakhir dalam penyampaiannya, para tokoh agama meminta kepada para media massa, lembaga survey, serta pengguna media sosial untuk tidak memperkeruh suasana. Para tokoh agama berharap seluruh komponen dapat berusaha menciptakan situasi yang kondusif sesuai dengan fungsi media sebagai pendidikan, pencerdasan, dan persatuan bangsa.

(mad/mad)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini