Berbagai lembaga survei merilis hasil hitung cepat (quick count) pasca pemungutan dan penghitungan suara yang berlangsung pada Rabu (10/7) kemarin. Bawaslu meminta agar masyarakat kritis melihat hasil hitung cepat.
"Bawaslu meminta masyarakat jangan langsung ditelan mentah-mentah, percaya yang sudah diumumkan itu (hasil hitung cepat-red). Tapi sabar dulu menunggu hasil dari KPU," kata komsioner Bawaslu Nasrullah dalam jumpa pers di kantornya Jl MH Thamrin, Jakpus, Kamis (10/7/2014).
Menurut Nasrullah, hasil hitung cepat yang diumumkan oleh sejumlah lembaga survei dan diumumkan media bukan hasil resmi pemilu presiden, dan tidak bisa sepenuhnya dijadikan rujukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihaknya meminta kepada media televisi, meski bukan ranah Bawaslu, untuk meredam dan menghentikan siaran berulang hasil quick count yang bisa memprovokasi masyarakat dengan klaim kemenangan pasangan calon.
"Bawaslu ingin mengimbau untuk sementara tolong diredam hasil jajak pendapat, sabar dulu. Jangan terus ditayangkan meski itu bagian dari kebebasan pers, tapi sabar saja dulu insya Allah 22 Juli akan ada hasil," ucapnya.
"Ini memang murni kebebasan kawan-kawan media, tapi kebebasan itu harus demi bangsa dan negara republik Indonesia," imbuhnya.
(bal/trq)











































