"Ini Kejaiban Tuhan. Kami Dikejar-kejar Air Setinggi 4 Meter"

"Ini Kejaiban Tuhan. Kami Dikejar-kejar Air Setinggi 4 Meter"

- detikNews
Selasa, 28 Des 2004 10:30 WIB
Ini Kejaiban Tuhan. Kami Dikejar-kejar Air Setinggi 4 Meter
Jakarta - Dahsyatnya gempa dan gelombang Tsunami di Aceh disaksikan oleh wartawan kami, Nur Raihan atau bisa dipanggil juga Rayhan Anas Lubis. Alhamdulillah, Rayhan selamat dari amukan gelombang itu. "Kami selamat hanya dengan keajaiban Tuhan," kata Rayhan. Redaksi detikcom sangat khawatir dengan keberadaan Rayhan setelah gelombang pasang itu memporak-porandakan Aceh. Pasalnya, sejak gempa dan Tsunami itu terjadi pada Minggu (26/12/2004) pagi, Rayhan tidak bisa dikontak. Ponselnya mati, karena memang jaringan telekomunikasi di Aceh, terutama di Banda Aceh memang tidak bisa berfungsi akibat musibah itu. Tidak hanya redaksi yang khawatir atas keberadaan Rayhan, orang tua Rayhan yang menetap di Medan juga merasakan hal yang sama. Redaksi juga terus menjalin komunikasi dengan orang tua Rayhan yang tampak sedih atas musibah di Aceh itu. Sampai akhirnya, pada Senin (27/12/2004) malam, keberadaan Rayhan berhasil ditelusuri. Rayhan bersama suaminya dan keluarga mertuanya selamat. Mereka mengungsi bersama 10 KK lainnya di sebuah gudang oksigen milik PT Bumiayu yang berada di daerah Santan, Aceh Besar. Mereka mengungsi ke tempat ini karena merupakan daerah yang agak tinggi. Daerah ini berada di dekat Bandara Iskandar Muda. Keberadaan Rayhan berhasil ditelusuri setelah suaminya melihat-lihat kota Banda Aceh, pada Senin (27/12/2004) sore. Suaminya, Dendy, sempat bertemu dengan sejumlah wartawan yang ikut rombongan Wapres Jusuf Kalla. Kebetulan Dendy, juga seorang wartawan di Reuters. Dari teman-teman wartawan itulah, akhirnya berita nasib Rayhan sampai ke telinga redaksi. Dendy juga menitipkan nomor handphone Flexi miliknya, untuk disampaikan ke orang tuanya dan redaksi. Saat wartawan-wartawan pulang ke Medan, mereka pun menyampaikan titipan pesan Dendy itu. Di tempat pengungsian, Dendy dan Rayhan memang tidak bisa mengoperasikan handphone-nya, karena jaringan Telkomsel juga mati. Tapi, pada Senin (27/12/2004) malam, setelah mendapatkan nomor handphone Rayhan dan suaminya, keluarga Rayhan di Medan mencoba meneleponnya. Dan ternyata nyambung. "Rayhan selamat dan sehat, tapi berada di pengungsian. Mereka tidak bisa menghubungi kami, karena sinyal masih buruk. Cuma kalau kami menghubungi dia, bisa," kata Soraya, kakak Rayhan. Redaksi mencoba menelepon Rayhan pada pukul 08.50 WIB, Selasa (28/12/2004). Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya tersambung juga. Rayhan tampak senang karena bisa berkomunikasi dengan redaksi kembali. Namun, dia tampak terpukul atas musibah itu. Dengan sambil menangis, Rayhan menceritakan sedikit tentang kisah yang dialaminya itu. Beberapa hari terakhir sebelum musibah itu datang, Rayhan tinggal bersama suami, Dendy Montgomery, di rumah mertuanya di Jl. Singgahmata no 83, Banda Aceh. Daerah ini berada di pusat kota Banda Aceh. Kini rumah mertuanya mengalami kerusakan ringan dan terendam air, akibat musibah itu. Saat musibah itu datang, Minggu (26/12/2004) pagi, Rayhan masih berada di dalam rumah. Rayhan dikagetkan juga dengan gempa berkekuatan besar. Gempa tidak hanya sekali. Tapi berkali-kali. Terakhir, gempa terjadi pada pukul 08.10 WIB. Setelah gempa berakhir, Rayhan dan Dendy keluar rumah untuk liputan. Saat itu, ada informasi bahwa Hotel Kuala Tripa, hotel terbesar di Banda Aceh roboh akibat diguncang gempa itu. Dengan menggunakan mobil Jeep, Rayhan dan Dendy menuju Hotel itu. Rumah Rayhan tidak jauh dari hotel itu. Pukul 08.25 WIB, dia sampai hotel itu. "Ya Allah, hotel itu ambruk. Banyak penghuni hotel itu, termasuk pramugari-pramugari yang histeris menyelamatkan diri," kisah Rayhan. Namun, hanya beberapa menit di hotel itu, tiba-tiba teriakan warga terdengar kencang. Orang-orang berlarian. Air setinggi 4 meter dari kejauhan tampak mengalir kencang ke arah hotel itu. "Kami langsung meninggalkan hotel dan menyelamatkan diri. Kami terus berkejaran dengan gulungan air setinggi 4 meter itu," kata Rayhan. Rayhan dan suaminya sempat menuju ke rumahnya untuk menyelamatkan mertua dan adik-adik iparnya. "Kebetulan, mertua saya dan adik-adik ipar saya sudah berada di jalanan, karena menyelamatkan diri. Mereka langsung naik mobil kami. Beberapa keluarga lain juga kami angkut," kata Rayhan. Rayhan menuju daerah Aceh Besar, karena daerah itu agak tinggi. "Kami sempat terjebak air di depan terminal Setui, tapi kami tetap menerjang. Dan akhirnya kami sampai di Daerah Santan ini dan kami meminta izin kepada pemilik perusahaan untuk mengungsi di sini," ungkapnya. "Ini hanya keajaiban Tuhan. Bisa dibayangkan, mobil-mobil di belakang kami sudah diterjang air bah itu. Kami sedikit lambat saja, bisa saja terkena. Tapi, alhamdulillah kami selamat," tutur dia. Rumah mertua Rayhan juga terkena musibah itu. Namun tidak mengalami kerusakan parah. "Sampai sekarang rumah kami masih terendam," jelasnya. Sementara rumah-rumah warga di kampung sebelah kami hancur lebur," kata dia. (asy/)


Berita Terkait