Hadiri Sidang Ratu Atut, Ketua DPD Golkar Banten Bicara Soal Quick Count

Hadiri Sidang Ratu Atut, Ketua DPD Golkar Banten Bicara Soal Quick Count

- detikNews
Kamis, 10 Jul 2014 10:43 WIB
Hadiri Sidang Ratu Atut, Ketua DPD Golkar Banten Bicara Soal Quick Count
Jakarta -

Ketua DPD Golkar Banten Ratu Tatu Chasanah berharap kedua pasangan capres/cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla mendinginkan kondisi politik usai pemungutan suara. Masyarakat juga diminta menunggu hasil hitung resmi KPU.

"Kita tunggu KPU saja. Kedua belah pihak menahan diri jangan sampai memicu jadi ribut dan membuat masyarakat jadi bingung," kata Ratu Tatu saat menemani Ratu Atut Chosiyah di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (10/7/2014).

Menurut dia, perbedaan hasil hitung cepat (quick count) membuat masyarakat kebingungan. Para tim sukses kedua pasangan capres/cawapres diminta menenangkan para pendukung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena memang kebanyakan menanyakan ke partai menanyakan gimana nih kita nggak ngerti yang presiden sebetulnya siapa? Kok presidennya ada dua, ada presiden tvOne, ada presiden MetroTV. Saya bilang tunggu aja di KPU,"paparnya.

Terkait perbedaan hasil quick count, Ratu Tatu mengaku sudah berkoordinasi dengan pengurus partai di wilayahnya agar mendinginkan situasi politik sambil menunggu hasil hitung resmi KPU.

"Saya tetap mengikuti KPU, kita tenangkan saja. โ€ŽDan sebelum pemilu juga sudah disampaikan perbedaan itu nggak usah jadi perpecahan. Perbedaan pilihan itu adalah demokratis," katanya.

Dalam kesempatan itu, Ratu Tatu Chasanah menyarankan agar Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla melakukan pertemuan pasca pemungutan suara. Pertemuan keduanya diyakini bisa menenangkan masyarakat yang terpecah karena perbedaan hasil hitung cepat (quick count).

"Seharusnya begitu dan dipublish kepada masyarakat, biar masyarakat tenang. Beliau berdua ini kan negarwan jadi harus menjadi contoh yang bagus untuk masyarakat supaya yang di bawah tenang," tambahnya.

Ratu Tatu khawatir perbedaan hasil quick count membuat hubungan antara para pendukung kedua pasangan semakin memanas. Tim sukses masing-masing pasangan menurutnya wajib untuk menenangkan pendukung.

"Perbedaan pilihan itu adalah demokratis. Jadi mereka bersikap biasa saja. Karena kan kalau seperti Pilkda dan Pilpres, rata-rata di bawah yang ribut. Jadi harus pintar-pintarnya timsesnya ke bawah, meredam jangan malah provokator, repot nanti," tutur Tatu.

(fdn/mad)


Berita Terkait