Tak bisa terelakkan media sosial telah dijadikan kendaraan politik para pendukung calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Dukungan dan hujatan ter-posting secara berlebihan, membuat hawa media sosial tak lagi terasa bersahabat. Fasilitas ‘unfriend’, ‘unfollow’ dan ‘unshare’ pun dipilih orang-orang yang merasa gerah dengan hawa panas dunia maya.
Ditilik dari sisi psikologi, ‘perang Pilpres’ di media sosial sebenarnya tidak banyak mempengaruhi pemilih yang telah menetapkan suaranya pada salah satu pasangan capres cawapres. Dukungan dan hujatan yang ada hanya akan memperkuat pilihan yang sebelumnya sudah ada atau membenci kelompok yang menyebarkan info negatif. Jadi, bukannya malah mengubah suara pada pasangan capres cawapres lain.
“Menurut saya (perang Pilpres di media sosial) sia-sia, karena tidak akan berpengaruh pada orang yang sudah punya pilihan,” kata Roslina Verauli, psikolog dari RS Pondok Indah saat berbincang dengan detikcom, Rabu (9/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penalaran induktif bisa diperoleh setelah seseorang melakukan riset dan menilai sesuatu yang dianggapnya paling baik. Meski demikian, penalaran pribadi sangat bersifat subyektif.
“Karena sifatnya subyektif, maka tidak ada gunanya mempengaruhi orang,” kata wanita yang akrab disapa Vera.
Menurut Vera, saat tim sukses mengedarkan isu positif tentang capres-cawapres yang diusungnya paling banter hanya akan memperkuat pendapat orang-orang yang sebelumnya memang sudah menentukan pilihan.
Tapi bila yang disebarkan isu negatif, dampaknya terjadi disonansi, yaitu perasaan negatif pada orang yang menjelek-menjelekkan dan menyebarkan isu. Kondisi inilah yang terjadi di ranah media sosial.
Saat seseorang memiliki persamaan tertentu, tiba-tiba pengguna media sosial merasa satu kelompok dan memiliki terikatan. Isu-isu positif akan makin disebarluaskan, di-retweet atau di-repath.
Kepribadian seseorang pun akan menjadi berlebihan, membela kelompok usungannya secara berlebihan, menghujat kelompok lawan juga secara berlebihan. Jagat media sosial seolah menjadi medan perang adu pendapat. Masing-masing menganggap pasangan capres cawapres yang diusung adalah yang terbaik.
Meski begitu, Vera menekankan isu negatif hanya akan berpengaruh pada orang-orang tertentu, seperti pemilih yang masih bimbang, orang-orang dengan kecerdasan tidak terlalu tinggi, orang-orang dengan penalaran kurang baik, serta orang yang mudah terpancing secara emosional.
“Santai saja, pernyataan-pernyataan di media sosial belum tentu mewakili pernyataan pribadi orang tersebut. Bisa jadi pernyataan kelompok,” ujar Vera menjelaskan.
Secara sadar dan tidak sadar, perang argumen di media sosial bisa mengganggu psikologis seseorang. Meski demikian, kondisi ini dirasa masih wajar dan dianggap sebagai semangat masyarakat Indonesia menyambut pesta demoktrasi yang digelar 5 tahun sekali.
“Secara psikologi (perang Pilpres di media sosial) tidak akan membuat Anda gila, tapi bisa mengganggu penalaran dan emosional. Kelola nalar dan emosi,” kata Vera.
Vera berharap perang di media sosial tidak lantas berlanjut di dunia nyata. Teman yang saling ‘unfriend’ di media sosial bisa kembali damai dan menjalin hubungan harmonis seperti sedia kala. Vera pun menyarankan agar pengguna media sosial bisa menerima siapa pun presiden yang kemudian terpilih meski berlawanan dengan pilihan pribadi.
(mer/brn)











































