Berdasar analisisnya, BNPT menilai tingkat keamanan dan kerawanan Indonesia semasa kampanye berada pada tahap yang mengkhawatirkan. Sebab, pola kampanye yang menggadang isu sensitif seperti agama yang berujung pada tudingan pengkafiran dan ideologi komunis marak dilakukan.
Berikut petikan wawancara jurnalis CNNIndonesia.com, Sandy Indra Pratama, dengan Kepala BNPT, Ansyaad Mbai, di ruang rapat kantornya, Jakarta, Selasa (8/7/2014) mengenai kondisi keamanan pasca pemilihan presiden.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suka atau tidak suka, proses demokrasi seperti pemilihan umum selalu merupakan target para kelompok teror. Oleh karenanya diperlukan kewaspadaan masyarakat dalam menjalaninya. Apa sebab? Secara ideologis prinsip demokratis tak sejalan dengan mereka. Walhasil, politik demokrasi bagi mereka itu merupakan sebuah bentuk kekafiran yang perlu diperangi.
Pernahkah itu terjadi?
Jangan anggap remeh. BNPT mencatat, pada 2011 dalam gelaran Pemilihan Gubernur Aceh, sekelompok peneror βyang diduga merupakan eks kombatan konflik Aceh- mencoba membuat kisruh. Saat itu, mereka melakukan serangkaian terror. Antara lain, sweeping para pendatang yang berbeda etnis terutama dari Jawa, insiden penembakan dan ditemukannya sejumlah bom. Hasilnya, jadwal Pilkada diundur, tapi para perusuh itu berhasil ditangkapi.
Kejadian kemudian berlanjut, pada akhir 2012, di Sulawesi Selatan dalam gelaran yang sama, pemilihan kepala daerah. Saat itu Syahrul Yasin Limpo dilempari bom pipa. Beruntung bom itu gagal meledak. Dari insiden itu ditangkap dua orang yang ternyata sebelumnya pernah terlibat teror di Poso. Setelah itu lima orang kemudian ditangkap di Bima, Nusa Tenggara Barat.
Lalu, apa hasil analisis anda dan BNPT pada pemilihan presiden kali ini?
Kondisinya sebenarnya mengkhawatirkan. Ada pola kampanye yang menggunakan isu sensitif seperti agama, ideologi seperti komunis dan keyakinan seperti mengkafirkan orang dengan terang-terangan. Pola kampanye semacam ini, cocok dengan cita-cita kelompok teror.
Kelompok teror yang anda maksud itu siapa?
Saat ini sudah tak bisa lagi dibedakan antara kelompok satu dengan kelompok lainnya. Kami tak bisa bilang ini kelompok X atau Y misalnya, sebab semua itu kini berbaur sudah. Dari satu kelompok berangkat ke kelompok lain dan bermain teror di tempat yang baru. Sementara tokoh-tokoh ideologisnya, macam Abu Bakar Ba'asyir, Aman Abdurahman, Umar Patek dan lainnya, meski sudah berada di balik terali namun tetap terkoneksi dengan banyak isu dan pergerakan barisan yang ada di luar.
Kepala Kepolisian pernah mengungkapkan beberapa tempat yang dianggap rawan kerusuhan usai Pilpres 2014, bagaimana analisis BNPT?
Kalau kepolisian itu analisisnya berdasarkan konflik politik dan keamanan. Kami itu analisisnya berdasarkan potensi teror dan sebaran kelompok teror yang ada. Pada dasarnya sama saja titiknya sama.
Mana yang paling rawan?
Jakarta sebagai ibu kota tetap dinilai paling rawan. Sebab kota ini menjadi barometer keamanan negara.
(van/nrl)










































