Teknologi terbukti jadi salah satu media komunikasi paling efektif, cepat dan mudah didapat. Namun di sisi lain kehadirannya juga bisa meyesatkan jika digunakan untuk kepentingan pribadi sekelompok elite politik.
Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menyebutkan, hingga Mei 2014 pengguna internet di Indonesia sudah tembus 82 juta orang, hal ini sekaligus menempatkan Indonesia pada peringkat ke-8 di dunia soal pengguna internet terbesar.
Dari semua pengguna tersebut sebagian besar sudah berusia dewasa dan resmi memiliki hak pilih. Inilah yang mungkin mendasari para tim sukses Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 untuk melakukan kampanye di dunia maya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada sejumlah akun Twitter yang memang dibuat untuk menyebarkan kebencian, yakni dengan membeberkan semua kelemahan lawan dengan isi yang tak semuanya benar. Begitu juga dengan maraknya situs-situs baru yang didedikasikan untuk menyudutkan salah satu pihak.
Tak cukup sampai di situ. Penyebar kampanye hitam melangkah lebih jauh dengan membuat program jahat yang berdampak pada layanan iklan milik Google, AdWords. Sialnya iklan ini kemudian muncul di sejumlah portal berita besar Indonesia saat masa tenang Pilpres 2014.
“Iklan ini ditampilkan secara selektif dengan waktu yang ditentukan oleh pemasang iklan, dan area iklan yang juga hanya tampil pada IP Indonesia. Pengetesan kolega Vaksincom di Singapura, iklan ini tidak tampil jika dilihat menggunakan IP Singapura,” jelas Alfons Tanujaya, praktisi malware dan keamanan internet dari Vaksincom.
Alfons menyebutkan malware/adware yang digunakan dalam kampanye hitam itu adalah jenis Potentially Unwanted Program (PUP) yang digunakan sebagai Adnxs. Program jahat ini menginfeksi komputer saat korban memasang aplikasi gratisan dari pihak ketiga.
"Sama persis seperti Mobogenie, dia itu menumpang Bluestack -- emulator Android di PC—. Saat diinstal masuklah Mobogenie ini," katanya.
Serangan di dunia maya memang bukan cara baru di dunia politik. Dulu, saat Pilpres di Amerika Serikat 2008 berlangsung, Barrack Obama juga mendapatkan serangan serupa lewat media sosial dan dunia maya.
Hal serupa kini terjadi di Indonesia. Dan dengan makin banyaknya pengguna internet, didukung teknologi yang semakin cangih, bukan tidak mungkin ke depannya akan muncul cara-cara baru menyerang lawan politik lewat sebuah teknologi.
(eno/brn)











































