Fadel Buka Bobrok Rezim Orde Baru Saat Pemilu Presiden

- detikNews
Selasa, 08 Jul 2014 19:43 WIB
Fadel bersama Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya dan politikus PDIP Maruarar Sirait. (Foto: Endro Priherdityo/Detiknews)
Jakarta -

Pemilihan Umum Presiden 2014 ini benar-benar dirasakan beda oleh Fadel Muhammad. Terlebih pada Pilpres kali ini kandidatnya hanya diikuti dua pasangan calon.

Anggota Tim Pemenangan Prabowo-Hatta ini menceritakan tentang kondisi Pemilu saat masa Orde Baru. Fadel membandingkan perbedaan yang sangat mencolok di antara kedua zaman tersebut. Hal ini diungkapkan Fadel menanggapi situasi dan kondisi Pilpres sekarang yang dirasa sangat dinamis.

"Sekarang tidak ada yang bisa menduga siapa yang akan memenangkan Pemilu. Beda saat Orde Baru dulu yang pemenangnya sudah diketahui sebulan sebelum Pemilu," ujar Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini ketika ditemui di Hotel Sofyan di Jalan Cut Meutia, Menteng Jakarta Pusat, Selasa (8/9/2014).

Fadel berada di tempat ini hadir sebagai nara sumber saat penyampaian hasil survei elektabilitas capres oleh Charta Politika. Fadel mengisahkan ketika rezim Orde Baru masing-masing gubernur sudah mematok dan mengumumkan kemenangan Partai Golkar di daerahnya jauh hari sebelum pemilihan berlangsung.

Mantan Gubernur Gorontalo ini juga menceritakan jika dari pemerintah pusat merasa belum memiliki jumlah suara yang cukup maka pusat akan meminta suara tambahan dari daerah tersebut. "Itu kebohongan publik," Fadel menegaskan.

Ketika akan memilih presiden pun, partai merumuskan keputusan yang sebenarnya sudah disetujui sedari jauh hari. Ketika saat itu Soeharto menolak untuk diajukan kembali, para elite politik saat itu beralasan bahwa pengajuan tersebut adalah kehendak rakyat.

Potret buram masa Orba itu ditanggapi oleh politikus PDI Perjuangan Maruarar Sirait dalam sesi memberikan tanggapan atas hasil survei. "Pak Fadel tidak mau Orde Baru muncul kembali, kan?" ucap politisi yang akrab disapa Bang Ara ini menimpali.

Pertanyaan Ara itu kontan ditanggapi gelengan kepala oleh Fadel. Seraya mengernyitkan alis dan mengibaskan tangannya, Fadel memberikan tanda menyetujui ucapan Ara. Sontak dialog kedua politisi beda generasi ini disambut tawa oleh para peserta yang hadir.

(brn/brn)