Gempa dan Tsunami Aceh
Presiden Kunjungi Lhokseumawe
Senin, 27 Des 2004 19:09 WIB
Lhokseumawe - Pemerintah bergerak cepat merespons musibah gempa dan gelombang Tsunami di Aceh. Senin (27/12/2004) pukul 18.10 WIB, Presiden SBY mengunjungi para pengungsi korban gempa dan Tsunami yang berada di kamp pengungsi di lapangan Hiraq, Lhoksemawe. Presiden mendatangi tempat pengungsian yang dihuni 909 jiwa itu dengan didampingi para menteri. Antara lain Menko Kesra Alwi Shihab, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Menteri Agama Maftuh Basyuni dan Menko Polhukkam Widodo AS. Di lokasi pengungsian, Presiden SBY berbicara dan berdialog dengan para pengungsi. Presiden yang mengenakan baju batik cokelat meminta para korban untuk tetap tabah dan sabar menghadapi cobaan Allah SWT. Presiden bertolak ke Lhokseumawe dengan menggunakan pesawat dari Bandara Polonia, Medan. Sebelumnya, Presiden baru saja melakukan lawatan ke Jayapura. Begitu musibah besar menimpa Naggroe Aceh Darussalam (NAD), Presiden membatalkan rencana ke Jakarta dan langsung menuju Medan. Sesaat setelah tiba di Bandara Malikul Saleh, Aceh Utara, Presiden mendapatkan pemaparan mengenai musibah gempa dan Tsunami dari Pangdam Iskandar Muda Mayjen Endang Suwarya. Setelah itu, secara spontan Presiden mengunjungi para pengungsi yang berada di kamp pengungsian di kompleks Bandara Malikul Saleh. Dari bandara Malikul Saleh, Presiden dan rombongan mengujungi daerah Krueng Mane, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara. Daerah ini merupakan daerah yang mengalami kerusakan parah akibat gemba dan Tsunami itu. Setelah meninjau daerah itu, Presiden kemudian meluncur ke Lhokseumawe untuk bertemu pengungsi. Rencananya, malam ini Presiden akan bermalam di Lhokseumawe. Bahkan, ada informasi Presiden akan memimpin rapat dengan jajaran pemerintah daerah terkait. Selasa (28/12/2004) besok, Presiden akan meninggalkan Lhokseumawe menuju Banda Aceh, untuk melihat dari dekat kerusakan di Banda Aceh dan bertemu para korban dan pengungsi. Sementara itu, situasi di Lhokseumawe tampak normal. Listrik tetap menyala dan sistem telekomunikasi juga beroperasi dengan baik. Ini berbeda dengan kondisi di Banda Aceh.
(asy/)











































