Ribuan pemilih mengalir berduyun-duyun untuk memberikan suara pada Pilpres di TPSLN Den Haag, namun semua berjalan tertib tanpa satu pun insiden. Dubes pun membanggakan masyarakatnya.
Dubes RI untuk Kerajaan Belanda Retno Marsudi, seusai menyampaikan sambutan singkat menjelang dimulainya pemungutan suara di TPSLN Den Haag, Sabtu (5 Juli 2014), tidak langsung meninggalkan tempat melainkan berbaur dengan masyarakat sampai pemungutan suara selesai.
Ketika mendapat laporan bahwa di luar antrean mulai panjang dan hujan mulai turun, Dubes keluar dari ruang sekitar TPSLN dan menemui masyarakat, bertenggang rasa ikut berhujan-hujanan didampingi ajudannya Diyana Suci Listyawati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya terharu dan patut membanggakan masyarakat Indonesia di Belanda. Meskipun mereka harus menunggu dalam antrian panjang selama 1 sampai 2 jam, namun mereka tetap ceria, ramah dan sopan. Ribuan orang, dalam situasi hujan dan kurang nyaman, tapi tidak ada satu pun terjadi insiden. Sangat membanggakan," ujar Dubes dalam bincang-bincang dengan detikcom setelah pemungutan suara di TPSLN Den Haag berakhir.
Menurut pengamatan Dubes, masyarakat jelas telah menunjukkan perilaku dan sopan santun sebagai bangsa Indonesia yang beradab dan patut menjadi contoh. Masyarakat juga menikmati pemilu presiden dan wakil presiden secara langsung ini sebagai pesta demokrasi dalam suasana gembira.
"Mereka tahu punya hak, tetapi mereka mengurus haknya itu dengan mendahulukan kepentingan bersama, saling hormat-menghormati dan ada solidaritas bersama, sehingga semua berjalan tertib dan tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan bersama," imbuh Dubes.
Dubes menambahkan bahwa antusiasme WNI pemilih tersebut mencerminkan dukungan yang besar bagi proses demokrasi di Indonesia pada satu sisi, dan kesadaran berpolitik yang semakin baik pada sisi lain.
Selain membanggakan masyarakatnya, Dubes juga memberikan apresiasi tinggi kepada PPLN, KPPSLN, PANWASLU, para saksi dan semua pihak yang telah melaksanakan Pemilu Presiden RI dengan demokratis, aman dan damai.
Dikatakan Dubes bahwa apa yang telah diperlihatkan oleh masyarakat Indonesia di Belanda itu sesungguhnya adalah praktik dari falsafah bangsa, yakni Pancasila, sebuah dasar bermasyarakat dan berbangsa yang majemuk, Bhinneka Tunggal Ika.
"Masyarakat yang datang untuk memilih, yang saya temui tadi, itu berasal dari berbagai daerah. Inilah Indonesia, representasi Indonesia kecil di luar negeri, di Belanda dan saya sangat bangga pada mereka," pungkas Dubes.
Masyarakat pemilih di Belanda sendiri sebenarnya dapat memilih melalui pos, tapi ternyata mereka sebagian besar ingin datang langsung, sehingga melampaui kapasitas ruangan dan menimbulkan pemandangan yang spektakuler.
KBRI Den Haag telah membuka seluruh area dan ruangan, kecuali bagian yang sensitif untuk pertimbangan keamanan, namun tetap tidak mampu menampung antusiasme masyarakat.
Panitia sendiri, sebagian yang muslim dalam kondisi tetap puasa, tidak ada yang istirahat. Mereka terus melayani pemilih dengan tetap ramah non-stop selama 9 jam dari pukul 10.00 sampai 19.00. Dengan jumlah pemilih yang datang mencoblos sebanyak 2.342 orang, berarti kecepatan layanan rata-ratanya adalah 1 orang per 15 detik! Sebuah rekor.
(es/es)











































