Ada 13 universitas yang bekerjasama dengan Founding Fathers House (FFH) untuk memantau Pilpres 2014 melalui aplikasi yang mereka namakan Matar, singkatan dari Mata Rakyat. Universitas tersebut yaitu Universitas Negeri Semarang (Unes), Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Universitas Diponegoro (Undip), Universitas PGRI Semarang, Universitas Stikubank Semarang, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Universitas Brawijaya (UB) Malang, Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), IAIN Sunan Ampel Surabaya, ITS, Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPN) Jatim, dan Universitas Trunojoyo Madura (UTM).
“FFH dan komunitas kampus akan mengawasi jalannya pemungutan suara di TPS-TPS menggunakan gadget berteknologi tinggi. Dengan aplikasi sistem Matar yang kami ciptakan khusus untuk mengawasi jalannya pemungutan suara, maka kecurangan dan data otentik di lapangan dapat diperoleh real time,” demikian diungkapkan Sekjen FFH, Syahrial Nasution, di Jakarta, dalam siaran pers yang diterima detikcom, Senin (7/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Termasuk aktivitas recording (merekam) pada setiap penandatanganan berita acara hasil pemungutan suara oleh petugas TPS, pengawas dan saksi. Termasuk jika ada kejadian luar biasa. Sehingga, dengan penandaan GPS dan sistem berjenjang dalam pengiriman data berbasis GSM, diharapkan tidak akan ada manipulasi baik secara metodologi maupun akurasi data,” tutur Syahrial.
Menurut Syahrial, target FFH dan komunitas kampus melaksanakan penilitian dan pengawasan pemungutan suara Pilpres 2014 berbasiskan IT adalah untuk mengawal kualitas demokrasi agar berlangsung jujur dan adil. Sehingga, keberhasilan penelitian dan pengawasan Pilpres 2014 berbasiskan IT ini dapat mendorong dilaksanakannya e-voting pada Pemilu 2019 mendatang.
“Pemilu di India dimana pemilihnya mencapai 800 juta orang, sudah mampu menggunakan e-voting. Kualitas demokrasi pelaksanaan pemilunya menjadi jauh lebih baik. Jadi, tidak ada alasan di Indonesia tidak dapat dilaksanakan. Dan rakyat jangan lagi harus mendengar ribut-ribut urusan KPU yang selalu dinilai lambat soal pengiriman logistik pemilu setiap lima tahun,” kata Syahrial.
Peniliti Senior FFH Dian Permata menambahkan, lebih dari 400 relawan yang berasal dari komunitas kampus akan disebar ke ratusan TPS yang rentan terhadap kecurangan dan potensi tarik-menarik suara di Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta dan Jawa Timur. Ditambahkan, dengan pemantauan yang dilakukan FFH dan komunitas kampus melalui penggunaan system informasi dan teknologi Matar, akan diketahui sejauh mana kecenderungan pemilih terhadap kandidat dan berapa besar partisipasi publik terhadap proses demokrasi yang berlangsung.
“Responden yang faktual karena menampilkan data diri yang lengkap termasuk foto dan sidik jari, membuat akurasi penelitian dan pengawasan yang dilakukan FFH dan komunitas kampus menjadi sangat kredibel. Dan hasilnya pun akan didapatkan real time,” ujar Dian.
(dnu/mpr)










































