"Bangsa ini terbelah oleh kepentingan politik, terbelah oleh perbedaan jumlah jari yang kita angkat, dan sekarang saya berusaha berbicara tanpa mengangkat jari," kata Din.
Hal itu ia sampaikan di acara buka bersama antara MUI dengan Indonesian Association for Religion and Culture (IARC) bertemakan 'Wujudkan Kebersamaan di Bulan Suci' di Hotel Grand Sahid, Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu (6/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Para tokoh sekarang terbelah, ulama terbelah, mantan Jenderal pun terbelah, artis terbelah, dan yang ada di ruangan ini pasti juga terbelah," jelas Din.
Di hari tenang Pilpres 2014 ini, Din mengingatkan janganlah kita salah mengartikan arti pemilu yang sebenarnya. "Sekarang hari tenang, bahwa pemilu itu sejatinya cara mencapai kedamaian, jadi jangan sampai pemilu berujung memecahkan kedamaian," pesannya.
"Di Pilpres ini kita menjadi penyangga, dan tampil sebagai wasit moral karena Indonesia butuh sebuah penyangga," sambungnya.
(tfn/mad)











































