"Dalam strategi perang yang begitu dipahami oleh sosok seperti Prabowo, maka cara paling efektif menurunkan elektabilitas adalah dengan menyerang lawan. Ini juga sesuai ajaran Sun Tzu. Tidak tanggung-tanggung, dalam situasi puasa yang seharusnya dihormati, ada 25 isu serangan negatif yang ditujukan ke Jokowi," kata Hasto dalam siaran pers, Jumat (4/7/2014).
Sementara itu Hasto mencatat serangan ke kubu Prabowo hanya lima isu. "Itu pun termasuk dugaan ketidakberesan membayar tunggakan gaji Kiani Kertas, yang justru kontras dengan janji Prabowo untuk menyejahterakan buruh," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lagi-lagi terbukti, bahwa di bulan puasa sekalipun, serangan ke Jokowi makin menjadi. Ini betul-betul gambaran kekuasaan sebagai tujuan. Karena itulah jabatan menteri pun terkesan diobral," sindirnya.
Gambaran serangan di media online, imbuh Hasto, juga tidak jauh berbeda. Dari total serangan negatif, maka serangan ke Prabowo hanya 13%, dan Jokowi 87%. "Data-data ini secara mudah bisa ditemukan dari total sharing media online," terangnya.
Sementara itu serangan darat, kata Hasto, Tabloid Obor Rakyat tidak hanya menyerang Jokowi, tetapi seakan menumpulkan kekuatan Polri. "Untunglah, Polri kini sudah lebih bersikap tegas," pujinya.
Meski begitu banyak mendapatkan serangan, kata Hasto, pihaknya meyakini dan optimistis elektabilitas Jokowi-JK tak bisa dibendung. "Rakyat akan semakin paham bahwa sosok Jokowi yang terus menerus dipojokkan kini menuai dukungan. Kini rakyat paham, pemimpin mana yang mendewakan kekuasaan, mengobral janji menteri. Sebaliknya, rakyat semakin menegaskan pilihan pada Jokowi sebagaimana dinyatakan oleh Sherina dan ribuan publik figur lainnya," ujar Hasto merujuk pada tweet artis Sherina "Saya #AkhirnyaMilihJokowi" pada Kamis kemarin.
(van/nrl)











































