Hindari Gempa dan Tsunami, Nurnita Alami Luka Bakar

Hindari Gempa dan Tsunami, Nurnita Alami Luka Bakar

- detikNews
Senin, 27 Des 2004 13:38 WIB
Aceh Timur - Gempa dan gelombang Tsunami di Aceh mengakibatkan ribuan warga meninggal dunia dan puluhan ribu warga mengungsi. Tidak sedikit para korban yang selamat menderita luka. Termasuk, Nurnita, seorang ibu muda yang mengalami luka bakar. Nurnita adalah warga Kuta Binjai, Aceh Timur. Dia mengaku tidak bisa membayangkan kejadian yang terjadi pada Minggu (26/12/2004) kemarin. "Kejadiannya begitu cepat. Gempa dan air tiba-tiba memenuhi rumah saya," kata Nurnita saat ditemui detikcom, Senin (27/12/2004). Nurnita kini mengungsi di sebuah musalah di Desa Jilok, Kuta Binjai, Aceh Timur bersama ribuan warga lainnya. Dia mengaku panik saat terjadi gempa dan banjir bandang itu. "Begitu orang teriak-teriak, saya juga langsung keluar dari rumah. Saat itu saya sedang memasak. Nah, saat melarikan diri itulah, tempat penggorengan jatuh dan minyak mengenai kaki saya," kata Nurnita. Akibat sapuan gelombang Tsunami dan guncangan gempa, rumahnya yang sederhana kini roboh. "Saya takut kembali ke kampung. Selain rumah saya hilang, saya khawatir terjadi badai susulan," kata Nurnita. Pemantauan detikcom, ribuan warga Aceh Timur kini berada di kamp-kamp pengungsian sementara. Misalnya saja, sekitar 1.926 warga mengungsi di musala di Desa Tano Anou, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur. Di tempat pengungsian ini, kondisinya memprihatinkan. Musala seakan tidak mampu menampung para pengungsi. Dan saat ini, para pengungsi sangat membutuhkan bantuan makanan, termasuk kebutuhan air bersih. Kepal Dusun setempat SOfyan Amin (64) menyatakan, warga memang kekurangan pasokan makanan, karena sejak pukul 19.00 WIB, bantuan yang masuk hanya sekadar saja, seperti Mie Instan. Jumlahnya pun sangat kurang. "Kita sangat membutuhkan pasokan air bersih, selain makanan dan pakaian," jelasnya.Sejumlah warga di tempat penampungan ini juga mengalami penyakit, seperti diare dan gatal-gatal. Bahkan, sejumlah orang dirawat di puskesmas yang berada di tempat penampungan itu. Para pengungsi juga memenuhi tempat pengungsian lain di Desa Tano Anou. Warga tampak membangun tenda permanen dan plastik-plastik warna biru untuk berteduh. Di tempat ini, anak-anak banyak yang terserang penyakit. Mereka berasal dari enam desa di kecamatan tersebut. (asy/)


Berita Terkait