Juru Debat Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, Ali Mochtar Ngabalin menyayangkan aksi protes dengan pengerahan massa ini. Cara ini dinilainya sebagai bentuk yang otoriter dan main hakin sendiri.
"Saya sungguh merasa prihatin terhadap serangan ke TV One karena itu tindakan sepihak yang bisa merugikan publik. Jangan lupa media massa baik online, cetak, elektronik itu pemegang saham mayoritasnya itu masyarakat. Jadi kalau ada pihak-pihak yang main hakim sendiri akan merugikan rakyat terus di mana slogan yang selama ini dipakai untuk kampanye dari rakyat untuk rakyat," ujar Ali dalam pesan singkatnya, Kamis (3/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Inilah alasan yang saya tepis kalau Prabowo berkuasa pemerintahannya akan mengembalikan cara-cara atau aroma Orba. Sekarang terbukti dengan jelas, siapa yang merusak demokrasi yang dibangun selama ini? Ini tidak layak dan otoriter," sebut politikus Partai Golkar itu.
Adapun Anggota Bidang Media Komunikasi Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, Ariseno Ridhwan menilai seharusnya PDIP bisa menempuh jalur komunikasi dengan Dewan Pers. Jadi, dengan aksi pengerahan massa dianggap sebagai bentuk main hakim sendiri dan otoriter.
"Itu tidak layak. Sangat merusak proses demokrasi. Harusnya bisa ke Dewan Pres kan," ujar Ari di Rumah Polonia, Jakarta Timur, Kamis (3/7/2014).
Sebelumnya, pada Rabu malam, kantor pemberitaan TV One di Pulogadung, Jakarta Timur dan Yogyakarta didatangi massa organisasi sayap PDIP, yaitu Perjuangan Demokrasi (Repdem).
(hat/erd)











































