5 'Serangan Panik' Kubu Prabowo vs Jokowi

5 'Serangan Panik' Kubu Prabowo vs Jokowi

- detikNews
Rabu, 02 Jul 2014 12:19 WIB
5 Serangan Panik Kubu Prabowo vs Jokowi
Jakarta - Suhu politik menjelang Pilpres 2014 ini makin panas, seru, bahkan juga membuat geleng-geleng kepala. 'Panik!' merupakan kata yang sering terdengar dalam suasana tersebut. Kata itu meluncur dari para politisi kedua kubu kandidat, baik kubu Prabowo Subianto maupun Joko Widodo.

Berbagai isu yang bergantian membombardir kedua kubu dihadapi dengan berbagai macam cara juga. Namun mereka lantas saling mengkritik tanggapan atas isu, yang kadang tak mengenakkan mereka, sebagai wujud kepanikan.

Entah benar-benar panik atau tidak, yang jelas penilaian 'panik, panik, panik!' masih sering dipakai untuk mengomentari kubu lawan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Paling tidak, intensitas kata 'panik' mulai menanjak sekitar sebulan lalu lewat pernyataan kubu Prabowo-Hatta mengomentari ekspresi para pendukung Jokowi-JK di debat capres. Terakhir, kubu Prabowo-Hatta mengomentari pernyataan politisi PDIP Guruh Soekarnoputra yang mengaitkan Prabowo dengan Orde Baru sebagai bentuk kepanikan. Berikut adalah rangkaian 'serangan panik!' kedua kubu:

Fahri: Pendukung Jokowi Panik Melihat Penampilan Capresnya di Debat

Wasekjen PKS Fahri Hamzah bereaksi atas gambar yang diunggah simpatisan Joko Widodo, Wimar Witoelar, yang bertajuk 'Gallery of Rogues'. Fahri memajang gambar 'Aksi Kekalahan Jokowi' untuk menandingi 'Gallery of Rogues' yang menunjukkan ekspresi kepanikan para pendukung Jokowi saat melihat debat capres kedua.

"Tolong bandingkan dengan muka Timses Jokowi waktu debat terakhir. Mukanya muka orang pucet semua, nutup muka, ada yang mukanya asem, dan kecewa. Mereka lihat Jokowi bicara, mereka stres, panik, dan menunduk," kata Fahri saat dihubungi detikcom, Kamis (19/6/2014).

Fahri menyatakan gambar 'Gallery of Rogues' merupakan wujud dari perang gambar di masa persaingan Pilpres 2014 ini. Namun gambar dari Wimar itu dinyatakannya penuh hasil edit, sementara gambar tandingan dari Fahri yang berjudul 'Aksi kekalahan Jokowi' lebih alamiah.

"Itu bukan editing, itu asli muka mereka sendiri," ujar Fahri.

Fahri menilai ekspresi mereka merupakan ekspresi kecewa melihat penampilan Jokowi di panggung debat. Dalam gambar itu, nampak berbagai ekspresi dari pendukung Jokowi. Mereka adalah Anies Baswedan, Luhut Panjaitan, Ferry Mursyidan Baldan, dan sebagainya.

Komentari Survei Fiktif Gallup, JK: Itu Kepanikan dan Bohong

Beberapa hasil survei dimanipulasi untuk kepentingan pilpres 2014, salah satunya survei Gallup. Cawapres Jusuf Kalla (JK) menilai tindakan itu menunjukkan sikap panik dan memperlihatkan kebohongan.

"Itu semua kan kebohongan mungkin kepanikan juga. Sudah panik, sudah mulai bohong saja dan itu sangat tidak mendidik," kata JK di Bandung, Jawa Barat, Rabu (25/6/2014).

Menurut survei palsu itu yang dirilis Gallup Indonesian Daily Poll dipaparkan elektabilitas presiden selama masa 10 - 21 Juni 2014. Prabowo-Hatta mengalahkan Jokowi-JK di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Lombok, Bali, NTT, Papua dan Maluku. Setengah dari pemilih di empat wilayah tersebut percaya Prabowo akan memenangkan pemilihan presiden.

Survei ini menjadi bahan olok-olok di media sosial. Diduga survei aslinya dirilis saat persaingan Pilpres Amerika Serikat antara Obama melawan McCain. Pasalnya, di dalam survei Gallup palsu yang dirilis, masih terdapat kata 'Obama' yang sepertinya terlewati oleh si pengunggah.

"by nine percentage point margin, independent join Prabowo coalitions party in believing Obama is likely to win," tulis survei palsu tersebut.

Revolusi Mental Disebut Komunis, PDIP: Fadli Zon Panik Hadapi Jokowi-JK!

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menyebut gagasan revolusi mental Jokowi-JK lebih dekat dengan ide komunis. Menanggapi hal itu, Wasekjen PDIP Hasto Kristyanto mengatakan Fadli Zon panik hadapi elektabilitas Jokowi-JK.

"Fadli Zon nggak paham substansi yang disampaikan Jokowi, yang dia pahami bagaimana menyerang. Jangan karena panik kemudian membuat serangan membabi buta ke segala arah," kata Jubir Tim Jokowi-JK Hasto Kristiyanto kepada detikcom, Jumat (27/6/2014).

Menurut Hasto, gagasan besar revolusi mental berangkat dari cita-cita Pancasila sebagai dasar negara yang kemudian diterjemahkan Jokowi-JK dalam visi misi dan program sebagai capres dan cawapres.

"Jadi identitas komunis yang disampaikan Fadli Zon tidak benar, bahkan ketika menuduh sembarang itu merupakan cara pertentangan. Dia sudah menembak ke segala arah karena khawatir dengan survei LIPI dan LSI yang unggulkan Jokowi," ujarnya.

"Jangan gara-gara survei Jokowi tinggi lantas Fadli Zon gelap mata, seluruh cara dia pakai. Sebaiknya dia jujur siapa yang tampilannya mirip komunis," imbuh Hasto.

Fadli Zon: Prabowo Menyalip, Jokowi Panik!

Survei intenal Gerindra menunjukkan elektabilitas Prabowo-Hatta sudah menyalip Jokowi-JK. Sekretaris Tim Pemenangan Prabowo-Hatta Fadli Zon bersuara lantang soal keyakinan menang di Pilpres 2014.

"Di sana terjadi kepanikan dan tidak solid, karena memang Pak Prabowo naik dan menyalip," kata Fadli kepada wartawan di sela-sela kunjungan ke Pasar Pulogadung, Jakarta Timur, Minggu (29/6/2014).

Waketum Gerindra ini mengkritik sejumlah survei yang masih memenangkan Jokowi. Meskipun saat ini lebih banyak survei yang menempatkan keunggulan Jokowi-JK.

"Kalau sudah ada survei yang disampaikan itu banyak metodologi belum jelas. Orang-orang di LIPI ada yang bergabung di sana," tudingnya.

Timses Prabowo-Hatta: Pernyataan Guruh Soal Orba Adalah Bentuk Kepanikan

Juru Debat Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, Ali Mochtar Ngabalin, menilai pernyataan Guruh Soekarnoputra yang khawatir era Orde Baru bakal muncul lagi kalau Jokowi gagal jadi presiden adalah bentuk kepanikan yang tidak terbendung. Kepanikan tersebut karena tingkat elektabilitas Prabowo-Hatta yang semakin naik.

"Pernyataan Mas Guruh itu yang sesungguhnya tidak saja sesat tapi lebih fatal karena pernyataan itu menyesatkan banyak kalangan utamanya di akar rumput. Itu pernyataan bentuk kepanikan yang tidak terbendung karena elektabilitas Prabowo-Hatta," ujar Ali di Purwokerto, Jawa Tengah, Rabu (2/7/2014) dini hari.

Politikus Partai Golkar itu menganggap elektabilitas Prabowo-Hatta terus meningkat sehingga unggul di beberapa hasil survei. Hal ini yang membuat kubu lawan panik sehingga mengeluarkan psywar negatif demi mendapatkan perhatian publik. Justru, dia prihatin dengan pernyataan Guruh ini yang sebenarnya fatal dan sesat.

Sebelumnya, politikus PDIP Guruh Soekarnoputra menyebut kalau Joko Widodo gagal di Pemilu Presiden maka peluang munculnya Orde Baru bakal kembali muncul. Sindiran ini ditujukan kepada capres Prabowo Subianto yang merupakan mantan menantu Presiden kedua RI, Soeharto.

"Karena Saudara-saudara ini kader Bung Karno, kita harus memilih Jokowi. Karena kalau memilih yang lain maka saya melihat akan ada Orde Baru yang bangkit," kata Guruh di Jakarta, Selasa (1/7).
Halaman 2 dari 6
(dnu/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads