Mantan aktivis yang pernah berkuliah di Universitas Tanjungpura itu meminta tak disebut namanya. Dia pernah bertemu Thukul di sekitar tahun 1996-1997. Kala itu, sang penyair menumpang tinggal di rumah kontrakan di Gang Busri, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar.
"Di sana dia nggak ke mana-mana. Cuma di rumah kontrakan kami yang dijadiin sekretariat PRD," terangnya kepada detikcom, Selasa (1/7/2014).
Thukul sering mengisi acara diskusi, bedah buku dan orasi. Sebagian tak ada menyangka bahwa Thukul sedang dalam pelarian.
"Di tiap-tiap diskusi dia cuma ingatkan: kita sedang diawasi, karena pergerakan kita mengancam negara. Hati-hati kawan. Itu terus yang diomongin," ceritanya.
Menurutnya, Thukul cukup vokal sehingga diburu pemerintah. Meski bukan tokoh strategis, namun Thukul masuk dalam lingkaran tokoh penggerak.
"Wiji itu menguasai basic sejarah dan teori sosialisme politik. Orasinya membakar, puitis dan melankolik," ujarnya saat ditanya soal kesan terhadap Thukul.
Nama Wiji Thukul kembali menjadi perbincangan setelah mantan pentolan PRD yang kini staf khusus Presiden SBY, Andi Arief, menyebut bahwa Thukul tidak ditangkap dan masih hidup. Tapi di mana rimbanya sekarang, Andi tidak tahu.
(mad/nrl)










































