Sejumlah puisinya pun jadi inspirasi. Ada yang berhubungan dengan kekejaman penguasa, cerita masa pelarian, hingga kerinduannya pada keluarga. Sebagian lirik puisi Thukul ada yang dijadikan lagu perlawanan. Misalnya kalimat: "Hanya ada satu kata: lawan!" jadi pembuka lagu 'Lawan' dari grup band Jeruji. Kalimat itu juga sering menjadi yel-yel aksi massa.
Thukul sudah menulis puisi sejak awal 1980-an, dan kerap membacakan karya-karyanya di Taman Budaya Jawa Tengah di Solo. Dua kumpulan puisi pertamanya terbit pada 1984 secara terbatas, masing-masing 'Puisi Pelo' dan 'Darman dan Lain-lain'. Pada 1994, terbit buku kumpulan puisinya berjudul 'Mencari Tanah Lapang' dengan kata pengantar dari sosiolog dan mantan aktivis 66 Arief Budiman.
Pada 2000, penerbit Indonesia Tera dari Magelang mengumpulkan hampir semua puisi Wiji yang pernah terbit, dan diterbitkan kembali di bawah judul 'Aku Ingin Menjadi Peluru'. Dalam edisi cetak ulangnya, ditambahkan beberapa puisi Wiji yang ditulis dalam pelariannya sebagai 'buron politik' pemerintah Orde Baru. Salah satunya berjudul 'Baju Loak Sobek Pundaknya', sebuah puisi yang sangat sedih yang ditujukan untuk istrinya.
Yang terakhir, Majalah Tempo menerbitkan buklet 'Para Jendral Marah-marah' dalam edisi khusus Wiji Thukul yang beredar di pasaran Mei 2013 lalu. Buklet setebal 37 halaman yang merupakan bonus dari Tempo dengan judul sampul 'Teka-teki Wiji Thukul' itu memuat 49 buah puisi. Menariknya, sebagian besar dari puisi-puisi tersebut merupakan karya Wiji selama dalam pelariannya.
Di tengah misteriusnya keberadaan Thukul, aktivis 98 Andi Arief mengungkap kemungkinan Thukul tidak diculik dan masih hidup. Namun dia tidak tahu di mana keberadaannya.
Berikut beberapa puisi yang menyengat Orde Baru:
PERINGATAN
Jika rakyat pergi

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati

Barangkali mereka putus asa
Kalau rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri 

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Bila rakyat berani mengeluh 

Itu artinya sudah gawat 

Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah
 Kebenaran pasti terancam
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
 Maka hanya ada satu kata: lawan!.
(Wiji Thukul, 1986)
===
BUNGA DAN TEMBOK
Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kau hendaki tumbuh 

Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kau kehendaki adanya

Engkau lebih suka membangun
 Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga

Engkau adalah tembok itu

Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji

Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami

Di manapun–tirani harus tumbang!
===
P E N Y A I R
jika tak ada mesin ketik
aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang
jika tak ada kertas
aku akan menulis pada dinding
jika aku menulis dilarang
aku akan menulis dengan
tetes darah!
sarang jagat teater
19 januari 1988
===
UCAPKAN KATA-KATAMU
jika kau tak sanggup lagi bertanya
kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan
jika kau tahan kata-katamu
mulutmu tak bisa mengucapkan apa maumu
terampas
kau akan diperlakukan seperti batu
dibuang dipungut
atau dicabut seperti rumput
atau menganga
diisi apa saja menerima
tak bisa ambil bagian
jika kau tak berani lagi bertanya
kita akan jadi korban keputusan-keputusan
jangan kau penjarakan ucapanmu
jika kau menghamba kepada ketakutan
kita memperpanjang barisan perbudakan
kemasan-kentingan-sorogenen
===
AKU MASIH UTUH DAN KATA-KATA BELUM BINASA
ku bukan artis pembuat berita
Tapi aku memang selalu kabar buruk buat penguasa
Puisiku bukan puisi
Tapi kata-kata gelap
Yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan
Ia tak mati-mati, meski bola mataku diganti
Ia tak mati-mati, meski bercerai dengan rumah
Ditusuk-tusuk sepi, ia tak mati-mati
telah kubayar yang dia minta
umur-tenaga-luka
Kata-kata itu selalu menagih
Padaku ia selalu berkata, kau masih hidup
Aku memang masih utuh
dan kata-kata belum binasa
(Wiji Thukul.18 juni 1997)
(mad/nrl)











































