4 Aksi Saling Sindir Antara JK dan Hatta Dalam Debat Cawapres

4 Aksi Saling Sindir Antara JK dan Hatta Dalam Debat Cawapres

- detikNews
Senin, 30 Jun 2014 09:19 WIB
4 Aksi Saling Sindir Antara JK dan Hatta Dalam Debat Cawapres
Jakarta - Usai pekan lalu para capres beradu argumen dalam debat, kali ini para cawapres gantian bersaing dalam mengeksplor konsepnya. Kedua cawapres, yaitu Hatta Rajasa dan Jusuf Kalla sempat saling sindir dalam debat cawapres yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan pada Minggu (29/6) malam.

Kedua cawapres itu saling melontarkan visi misi dalam debat yang bertemakan 'Pengembangan Sumber Daya Manusia dan IPTEK' yang digelar di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Minggu (29/6) malam.

Saat sesi tanya jawab, kedua cawapres saling melempar pertanyaan mengenai visi misi masing-masing pasangan. Seperti ketika Hatta menanyakan mengenai revolusi mental kepada JK. Sebaliknya, JK juga sempat bertanya mengenai isu kebocoran anggaran yang selalu didengungkan capres Prabowo.

Berikut 3 momen saling sindir yang terjadi dalam debat cawapres tadi malam:

1. JK Jelaskan Arti Revolusi Mental

Calon wakil presiden nomor urut 2, Jusuf Kalla menegaskan revolusi mental yang diusungnya bersama calon presiden Joko Widodo adalah hal yang penting untuk pembangunan. Menurutnya, revolusi mental bukanlah perubahan secara menyeluruh dan sulit dikendalikan, melainkan perubahan cepat dan tepat.

"Revolusi itu jangan disalahartikan. Itu adalah perubahan cepat. Kalau itu tidak cepat, bagaimana kita bisa atasi itu?" kata JK dalam debat Cawapres 2014, di Hotel Bidakara, Jakarta, Minggu (29/6/2014).

JK mengatakan hal tersebut sebagai jawaban dari pertanyaan Hatta Rajasa yang bertanya mengenai reformasi dan revolusi mental.

Menurut JK, selama 60 tahun Indonesia merdeka, tujuan revolusi mental tersebut belum tercapai. "Kita sudah 60 tahun merdeka, sistem kita belum sempurna untuk mencapai tujuan itu," tegasnya.

1. JK Jelaskan Arti Revolusi Mental

Calon wakil presiden nomor urut 2, Jusuf Kalla menegaskan revolusi mental yang diusungnya bersama calon presiden Joko Widodo adalah hal yang penting untuk pembangunan. Menurutnya, revolusi mental bukanlah perubahan secara menyeluruh dan sulit dikendalikan, melainkan perubahan cepat dan tepat.

"Revolusi itu jangan disalahartikan. Itu adalah perubahan cepat. Kalau itu tidak cepat, bagaimana kita bisa atasi itu?" kata JK dalam debat Cawapres 2014, di Hotel Bidakara, Jakarta, Minggu (29/6/2014).

JK mengatakan hal tersebut sebagai jawaban dari pertanyaan Hatta Rajasa yang bertanya mengenai reformasi dan revolusi mental.

Menurut JK, selama 60 tahun Indonesia merdeka, tujuan revolusi mental tersebut belum tercapai. "Kita sudah 60 tahun merdeka, sistem kita belum sempurna untuk mencapai tujuan itu," tegasnya.

2. Dicecar JK, Hatta Klarifikasi Soal Kebocoran Anggaran Rp 1.000 Triliun

Bahasan tentang kebocoran Rp 1.000 triliun kembali muncul di debat cawapres malam ini. Hatta Rajasa menjawab pertanyaan Jusuf Kalla tentang kebocoran ini.

"Setiap debat, Pak Prabowo mengatakan tentang kebocoran daripada keuangan negara. Apa Anda ketahuan itu selama di pemerintahan?" tanya JK, dalam debat cawapres, di Hotel Bidakara, Jl MT Haryono, Jakarta Selatan, Minggu (29/6/2014) malam.

"Saya perlu menjelaskan Pak Prabowo Subianto capres kami tidak mengatakan kebocoran itu bersumber Rp 1.000 triliun dari APBN bagaimana mungkin yang dimaksud adalah pontensial lost," jawab Hatta.

Menurut Hatta, agar potensial lost tidak terjadi, Indonesia harus bisa memanfaatkan sekecil apapun untuk meraih keuntungan. Hatta lantas mencontohkan tentang bisnis batu bara.

Pebisnis di Indonesia harus menerapkan manajemen yang baik agar nilai jual batu bara tersebut menjadi tinggi.

"Di pemerintahan Pak SBY mengarah untuk memperbaiki itu, jadi tidak betul Rp 1.000 triliun adalah kebocoran dari APBN," tuturnya.

2. Dicecar JK, Hatta Klarifikasi Soal Kebocoran Anggaran Rp 1.000 Triliun

Bahasan tentang kebocoran Rp 1.000 triliun kembali muncul di debat cawapres malam ini. Hatta Rajasa menjawab pertanyaan Jusuf Kalla tentang kebocoran ini.

"Setiap debat, Pak Prabowo mengatakan tentang kebocoran daripada keuangan negara. Apa Anda ketahuan itu selama di pemerintahan?" tanya JK, dalam debat cawapres, di Hotel Bidakara, Jl MT Haryono, Jakarta Selatan, Minggu (29/6/2014) malam.

"Saya perlu menjelaskan Pak Prabowo Subianto capres kami tidak mengatakan kebocoran itu bersumber Rp 1.000 triliun dari APBN bagaimana mungkin yang dimaksud adalah pontensial lost," jawab Hatta.

Menurut Hatta, agar potensial lost tidak terjadi, Indonesia harus bisa memanfaatkan sekecil apapun untuk meraih keuntungan. Hatta lantas mencontohkan tentang bisnis batu bara.

Pebisnis di Indonesia harus menerapkan manajemen yang baik agar nilai jual batu bara tersebut menjadi tinggi.

"Di pemerintahan Pak SBY mengarah untuk memperbaiki itu, jadi tidak betul Rp 1.000 triliun adalah kebocoran dari APBN," tuturnya.

3. Hatta Banggakan UU, Bibit, dan Pembangkit Listrik Sebagai Inovasi Saat Jadi Menristek

Cawapres nomor urut 2, Hatta Rajasa menyebut keberhasilannya menuntaskan undang-undang, bibit unggul, serta pembangkit listrik sebagai inovasi yang membanggakan selama berkiprah sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek). Hal ini ia ungkapkan sebagai jawaban atas pertanyaan Cawapres nomor urut 2 Jusuf Kalla (JK) saat debat cawapres.

"Pak Hatta anda pernah Menristek. Ristek itu inovasi kembangkan teknologi, pencapaian sesuatu. Inovasi apa yang begitu menggembirakan anda, membanggakan anda, sehingga perlu diucapkan selamat atas inovasi itu," tanya JK di Hotel Bidakara, Jaksel, Minggu (29/6/2014).

Hatta menjawab bahwa inovasi ia yang pertama adalah UU di tahun 2002. UU tersebut sebagai dasar dari inovasi-inovasi berikutnya.

"Sebelum inovasi, saya letakkan dulu dasar-dasar kita mengembangkan sistem penelitian pengembangan IPTEK. Tahun 2002, saya tuntasukan UU Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Ini legal kita untuk funding pemerintah ke swasta dan pemerintah bisa keluarkan insentif untuk itu," jawab Hatta.

Hatta juga menonjolkan prestasinya dalam bidang modifikasi pangan. Sementara di bidang energi, ia membanggakan gagasannya tentang pembangkit listrik.

"Inovasi apa? Di pangan, begitu banyak temuan genetik modified pangan, padi terutama yang diaplikasikan LIPI dan BPPT dan perguruan tinggi IPB. Kita fokus IPB pangan, ITB materaial dan transportasi di timur. Itu bermanfaat dan dijalankan. Energi, Pak JK ingat, saya gagas tidak boleh pembangkit di bawah 15 MW. Saya sayangkan 10.000 MW yang tidak jalan. Saya bangga dengan itu pak JK," papar Hatta.

3. Hatta Banggakan UU, Bibit, dan Pembangkit Listrik Sebagai Inovasi Saat Jadi Menristek

Cawapres nomor urut 2, Hatta Rajasa menyebut keberhasilannya menuntaskan undang-undang, bibit unggul, serta pembangkit listrik sebagai inovasi yang membanggakan selama berkiprah sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek). Hal ini ia ungkapkan sebagai jawaban atas pertanyaan Cawapres nomor urut 2 Jusuf Kalla (JK) saat debat cawapres.

"Pak Hatta anda pernah Menristek. Ristek itu inovasi kembangkan teknologi, pencapaian sesuatu. Inovasi apa yang begitu menggembirakan anda, membanggakan anda, sehingga perlu diucapkan selamat atas inovasi itu," tanya JK di Hotel Bidakara, Jaksel, Minggu (29/6/2014).

Hatta menjawab bahwa inovasi ia yang pertama adalah UU di tahun 2002. UU tersebut sebagai dasar dari inovasi-inovasi berikutnya.

"Sebelum inovasi, saya letakkan dulu dasar-dasar kita mengembangkan sistem penelitian pengembangan IPTEK. Tahun 2002, saya tuntasukan UU Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Ini legal kita untuk funding pemerintah ke swasta dan pemerintah bisa keluarkan insentif untuk itu," jawab Hatta.

Hatta juga menonjolkan prestasinya dalam bidang modifikasi pangan. Sementara di bidang energi, ia membanggakan gagasannya tentang pembangkit listrik.

"Inovasi apa? Di pangan, begitu banyak temuan genetik modified pangan, padi terutama yang diaplikasikan LIPI dan BPPT dan perguruan tinggi IPB. Kita fokus IPB pangan, ITB materaial dan transportasi di timur. Itu bermanfaat dan dijalankan. Energi, Pak JK ingat, saya gagas tidak boleh pembangkit di bawah 15 MW. Saya sayangkan 10.000 MW yang tidak jalan. Saya bangga dengan itu pak JK," papar Hatta.

4. JK ke Hatta: Infrastruktur Penting, Tapi Jangan Cuma Diucapkan

Calon wakil presiden nomor urut 2, Jusuf Kalla (JK), menjalani proses debat dengan cawapres nomor urut 1, Hatta Rajasa. Dalam perdebatan ini, Hatta mengangkat masalah daya saing Indonesia. Menurut Hatta, infrastruktur adalah hal yang mendasar untuk membenahi daya saing. Bagaimana tanggapan JK?

JK sepakat bila dikatakan infrastruktur itu sangat penting. Akan tetapi, lebih penting lagi bila itu tidak hanya diucapkan melainkan dilaksanakan.

"Dalam pembahasan di pemerintah, itu adalah upaya harus diselesaikan. Infrastruktur penting. Tapi apa yang terjadi dewasa ini. Kita bikin apa, ada yang tidak bikin dan kenapa tidak terjadi. Padahal disebutkan bahwa infrastruktur penting," jawab JK.

JK kemudian mencontohkan dalam pembangunan pembangkit listrik. Saat JK menjadi wakil presiden selama 2004-2009, ia sempat menggagas proyek listrik 10.000 megawatt. Tapi itu tidak dilanjutkan.

"Jadi tidak hanya diucapkan, tapi dilaksanakan. Itu yang penting. Jangan sampai mati listrik lah kita saat pidato," tegasnya.

4. JK ke Hatta: Infrastruktur Penting, Tapi Jangan Cuma Diucapkan

Calon wakil presiden nomor urut 2, Jusuf Kalla (JK), menjalani proses debat dengan cawapres nomor urut 1, Hatta Rajasa. Dalam perdebatan ini, Hatta mengangkat masalah daya saing Indonesia. Menurut Hatta, infrastruktur adalah hal yang mendasar untuk membenahi daya saing. Bagaimana tanggapan JK?

JK sepakat bila dikatakan infrastruktur itu sangat penting. Akan tetapi, lebih penting lagi bila itu tidak hanya diucapkan melainkan dilaksanakan.

"Dalam pembahasan di pemerintah, itu adalah upaya harus diselesaikan. Infrastruktur penting. Tapi apa yang terjadi dewasa ini. Kita bikin apa, ada yang tidak bikin dan kenapa tidak terjadi. Padahal disebutkan bahwa infrastruktur penting," jawab JK.

JK kemudian mencontohkan dalam pembangunan pembangkit listrik. Saat JK menjadi wakil presiden selama 2004-2009, ia sempat menggagas proyek listrik 10.000 megawatt. Tapi itu tidak dilanjutkan.

"Jadi tidak hanya diucapkan, tapi dilaksanakan. Itu yang penting. Jangan sampai mati listrik lah kita saat pidato," tegasnya.
Halaman 2 dari 10
(dha/fdn)


Berita Terkait