Menuurtnya, Hatta yang sudah berpengalaman berada di pemerintahan tidak bisa memberi contoh konkret kinerjanya.
"Apakah harus menjadi seorang Wapres Ia baru dapat berbuat? Ke mana saja Ia selama ini?," ujar Poempida, Senin (30/6/2014).
Menurutnya, Hatta sudah pasti menyadari anggaran riset teknologi (ristek) yang sangat minim. Namun tidak ada kebijakan yang langsung terkait dengan penambahan anggaran semasa dia berada di pemerintahan.
"Padahal sebagai Menko Perekonomian, dia bisa berperan besar untuk itu," sambung politikus muda Golkar ini.
Infrastruktur yang disinggung Hatta sebagai basis pengembangan Iptek dan SDM, lanjut Poempida sebatas retorika. Poempida mempertanyakan kebijakan Hatta saat menjabat Menko Perekonomian yang dinilai tidak memprioritaskan sumber pembangkit listrik baru.
"Bagaimana mau mengembangkan Iptek kalau energinya saja tidak cukup? Bagaimana mau memajukan pendidikan kalau para muridnya harus belajar di bawah terangnya lampu tempel atau lilin? Belum lagi akses belajar melalui internet pasti terganggu kalau energinya tidak cukup," kritiknya.
Sedangkan JK, klaim Poempida berhasil menjawab berbagai isu dengan contoh konkret. "Meski kondisi kurang prima, tapi saya melihat relevansi dan bukti dari respon JK terhadap berbagai isu yang terangkat terlihat lebih riil," ujarnya.
(fdn/dha)











































