"Sebenarnya saya nggak niat merampok. Dan mungkin cara saya memang salah, tetapi mau gimana lagi. Itu anak sudah benar-benar menguji kesabaran saya. Jadi AM itu (korban perampokan-red) punya utang sama saya, utang-piutang Rp 7,5 juta," kata A kepada penyidik, Minggu (29/6/2014).
A dan korban sebenarnya sudah lama berteman. Mereka berkawan sejak SMA. Bahkan, A juga sering main ke rumah korban semasa mereka duduk di kursi SMA.
"Utangnya sudah lama, dari September 2013 harusnya sudah dia bayar, tetapi nyatanya sampai saat ini belum dibayar. Saya masih nunggu nih janji dia," kata A.
Wanita berambut bondol itu menjelaskan, ia sudah berupaya menagih utang kepada temannya itu sejak April 2014. Berkali-kali ia mencoba menghubungi bahkan hingga mendatangi langsung korban di rumahnya, namun tak pernah mendapat hasil.
"Pertama nagih langsung ke AM-nya, tapi sama sekali nggak direspon. Dari minta baik-baik, mohon-mohon, ngemis-ngemis sampe yang agak kenceng, udahlah segala macem. Jadi gak pernah nyahut, sampai chatingan di blok-blokin, saya coba dari nomer lain masih aktif, tapi nggak dibales juga," jelasnya.
Hingga April 2014, A mendatangi rumah korban. Saat itu, ia bertemu dengan adik korban yang baru tiba di rumah tersebut. A kemudian menanyakan AM kepada adik korban, tetapi dijawab tidak ada di rumah. Hingga akhirnya, suami AM berinisial AN menghampirinya.
"Akhirnya dia masuk, suaminya turun. AN suami AM, yang ikut nangkep saya juga saat itu. Dia bilang 'nanti gue kabarin, sekitar 3 hari dari sekarang. Kalau gue yang bayar, paling gue bisanya nyicil. Tapi kalau lo mau menunggu mertua gue (Ibunda AM-red), itu nanti lo bisa langsung dilunasin tapi nggak tau kapan karena lagi di luar negeri," bebernya.
Tersangka kemudian menunggu janji AN. Namun hingga sepekan, janji tinggal janji. Tersangka pun mulai kesal. Ia kemudian mencoba mendatangi kembali rumah korban. Bolak-balik ke rumah korban berkali-kali, namun tetap tidak bisa menagih utangnya.
Singkat cerita, hingga pertengahan Juni 2014, tersangka mulai kehilangan kesabaran. Ia kemudian mengajak temannya berinisial BA untuk menagih kembali utang tersebut. Namun saat itu, pemilik rumah sedang tidak ada.
"Dengan maksud supaya dibukain pintu (bawa BA-red), tujuan saya itu sebenarnya. Kan selama ini yang datang wujudnya saya, dibilangnya sama terus sama penjaga rumahnya 'nggak ada orang'. Saya pancing, kali aja kalau bukan saya, dia bukain pintu, gitu lho," paparnya.
Hingga kemudian, BA yang sudah mempersiapkan pisau lipat, mendatangi rumah korban. Sementara A, dia menunggu di dalam mobil yang dia sewa. Dia menguping percakapan BA dan penjaga rumah korban.
"Tidak lama ada perempuan satu, saya juga gak tahu siapa, karena saya nggak pernah lihat. Tapi sih dia ngakunya cuma dikasih numpang tinggal di sini," ucapnya.
Kepada BA, perempuan tersebut mengatakan bahwa pemilik rumah sedang tidak ada di rumah saat itu. BA kemudian meminta perempuan tersebut untuk membukakan pintu. Namun saat itu dihalangi oleh penjaga rumah, hingga akhirnya BA mengeluarkan pisau dan membuat penjaga rumah dan perempian tersebut ketakutan.
"Terus si mbaknya itu bilang 'oke kita bukain pintu, asal jangan ngapa-ngapain kita'," imbuhnya.
Setelah itu, BA dan A masuk ke dalam rumah korban. Dengan diikuti penjaga rumah dan perempuan tersebut, A dan BA menggeledah isi rumah dan kamar korban.
"Saya ambil beberapa barang di situ, sepertu parfum, sandal wedges, kamera Nikon, 3 buah jam tangan dan speaker aktiv merek Bosche," pungkasnya.
(mei/rna)










































