"Berbagai tindakan kampanye hitam yang menyerang Jokowi, dipadukan dengan temuan adanya pergerakan Babinsa yang mendukung capres tertentu, serta berbagai bentuk intimidasi dan kekerasan yang dialami pendukung Jokowi sebagaimana terjadi di Yogyakarta, ikut mempengaruhi," ujar Hasto dalam siaran pers, Minggu (29/6/2014).
Wakil Sekjen PDI Perjuangan ini menambahkan penyembunyian preferensi pilihan tersebut menjadi strategi rakyat yang mujarab. Lebih-lebih di tengah kecenderungan adanya lembaga survei yang dipakai sebagai alat pemenangan.
Dia mengingatkan bagaimana menjelang pemilu legislatif, saat itu Partai Gerindra mempromosikan secara besar-besaran hasil lembaga survei INES yang memenangkan Gerindra. Survei yang jauh dari kenyataan tersebut hanya menjadi alat pemenang, tetapi hasilnya jauh dari kenyataan.
"Karena itulah lembaga survei INES tersebut langsung lenyap, bermetamorfose menjadi bentuk lain. Untunglah publik menjadi cerdas, bahwa survei memang bisa menjadi alat untuk membangun persepsi menang, namun rakyatlah sebenarnya sebagi sang penentu pilihan," ucapnya.
Hasto menuturkan survei sangat mungkin dimanipulasi. Apalagi jika ada kekuatan modal besar di dalamnya. "Kita pun tahu pasangan mana yang memiliki modal yang besar, bahkan diindikasikan dekat dengan pengatur impor ekspor minyak dengan kategori besar," ucapnya.
Namun Hasto mengatakan, rakyat punya mekanisme untuk menyembunyikan pilihan hati nurani. Maka hal yang mengejutkan pun akan terjadi. Ketika Jokowi diserang secara massif dan survei dijadikan alat, maka fenomena Pilgub Jakarta akan terjadi.
"Rakyat Indonesia akan memberikan kejutan untuk berpihak pada pemimpin yang jujur seperti Jokowi. Indikasinya sederhana, ketika Jokowi datang, di situlah rakyat bergerak dengan penuh semangat dan rasa senang. Sebab kekuatan perubahan memang tidak terbendungkan," tandas Hasto.
(van/nrl)











































