"Sejak tahun 1984 NU sudah menyatakan kembali ke khittah, tidak boleh ada klaim bahwa NU mendukung salah satu pihak," kata Slamet saat ditemui di acara diskusi di Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu (26/6/2014).
Menanggapi adanya tokoh-tokoh dan ulama NU yang ikut mendukung salah satu pasangan capres-cawapres, Slamet menyatakan hal tersebut merupakan pilihan pribadi sebagai warga negara. Slamet juga menyerahkan sepenuhnya pilihan politik warga nahdliyin dalam Pilpres 9 Juli mendatang.
"Sekarang kembali pada nahdliyin apakah mau mengacu pada keluarga Gus Dur, keluarga Hasyim Muzadi, Said Agil Siradj, Mahfud Md, dan sebagainya," ujar Slamet menguraikan.
Slamet lantas menanggapi santai mengenai kemungkinan terjadinya gesekan kepentingan antar tokoh di tubuh NU. Menurut pandangan Slamet, warga NU sudah terbiasa dengan perbedaan. "Tidak ada perpecahan, sejak dulu orang NU ada di banyak partai tapi kalau sudah di PBNU semuanya akur," tutur Slamet.
(brn/brn)











































