Peneliti CSIS, Philips J. Vermonte berpendapat meskipun 90 persen pemilih Indonesia beragama Islam tetapi karakter pemilih Islam sangat luas. Asumsi partai-partai Islam bisa mempengaruhi pemilih harus dicek ulang.
“Memang 60 persen pemilih Islam bisa mengikuti keputusan partai, tetapi 40 persen sisanya sangat menentukan," ujar Philips dalam diskusi bertajuk Faktor Islam dalam Pemilu Presiden di Rarampa Resto, Jalan Mahakam II, Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu (28/6/2014).
Dalam diskusi yang juga dihadiri oleh Ketua PBNU Slamet Effendi Yusuf dan politikus PAN Viva Yoga Mauladi itu Philips memandang kontestasi Pilpres mendatang sangat terbuka lebar.
Persentase pemilih yang belum menentukan pilihan masih tinggi sehingga memungkinkan para pemilih Islam beralih dari pasangan Prabowo-Hatta maupun sebaliknya. "Di Indonesia, loyalitas pemilih terhadap partai masih tergolong rendah," kata Philips.
Menyangkut proses pemilihan presiden yang juga bertepatan dengan bulan Ramadan, menurut Philips hal tersebut akan membuat suasana kampanye menjadi lebih religius. Metode kampanye yang mengusung sentimen keagamaan akan banyak digunakan oleh tim kampanye kedua pasang capres-cawapres.
Pilpres yang hanya diikuti dua pasangan capres-cawapres, menurut Phillip juga menjadi penyebab kenapa polarisasi pemilih tidak dapat dihindari. "Isu primordial seperti isu agama paling mudah digunakan untuk memobilisasi massa," ujar Philips.
Namun dia mengatakan hendaknya isu keagamaan tersebut dihimpitkan dengan program dan kebijakan dari masing-masing pasangan sehingga nantinya tidak merugikan pemilih.
(brn/brn)











































