"Sudah ada seruan MUI agar semua pihak menjaga kesucian bulan ramadan maka jangan memanfaatkan untuk kampanye politik. Apalagi di tempat-tempat ibadah, apalagi melakukan kampanye hitam," ujar Din di acara sidang isbat yang digelar di gedung Kemenag, Jalan MH Thamrin, Jumat (27/6/2014).
Pria yang bergeral profesor yang lahir di Sumbawa ini mengatakan janganlah pilpres dijadikan sarana yang dapat menimbulkan perpecahan. Ia pun berharap semua pihak dapat mengedepankan kesatuan dan kebersamaan sehingga pilpres dapat berlangsung damai.
"Biarkan umat muslim melakukan ibadah dengan baik dan menjaga ukhuwah," tambah Din yang juga menjabaat sebagai Ketum Muhammadiyah ini.
Din pun menegaskan supaya kegiatan ramadan tidak dijadikan sebagai ajang kampanye. Petinggi World Islamic Peopleโs Leadership ini juga tidak melarang pemberian sumbangan selama tidak ada iming-imingannya.
"Ikhlas tanpa iming-imingan baik saja, tapi kalau menyumbang ada iming-imingan termasuk rasuah (korupsi)," Din menjelaskan.
Terkait pemberian parsel, jika terdapat logo atau embel-embel capres dalam parsel tersebut, Din menilai itu bukanlah sumbangan. Hal tersebut dapat dikatakan bersifat politik.
"Berarti bukan sumbangan. Itu masuk di dalam sumbangan bersifat politik karena ada embel-embelnya. Kalau mau nyumbang ya nyumbang. Karena agama mengajarkan tangan kanan memberi jangan diketahui tangan kiri," papar Din.
Din pun menegaskan agar pilpres tidak dijadikan kepentingan politik, termasuk memanfaatkan ceramah-ceramah ramadan untuk berkampanye. Pria yang lahir pada 31 Agustus 1958 ini berharap jangan sampai kepentingan politik mengotori kesucian ramadan yang dapat menimbulkan pertentangan umat muslim.
(ear/fjr)











































