"Sistem pendidikan kita kan selama 10 tahun terakhir ini ditarik ke arah nilai-nilai yang berorientasi pasar. Terutama kompetisi, privatisasi, biaya pendidikan yang semakin mahal," kata Bambang Wisudo, aktifis Sekolah Tanpa Batas, dalam jumpa pers "Mencermati Visi Misi Capres Bidang Pendidikan" di Kantor ICW, Jl. Kalibata Timur IV D No. 6, Jakarta Selatan, Jumat (27/6/2014).
Sistem pendidikan yang berorientasi pasar ini, Bambang menjelaskan, merupakan pengaruh dari apa yang dikenal dengan Global Education Reform Movement (GERM). Sistem ini sudah banyak diaplikasikan di negara-negara maju seperti Amerika, Inggris dan lain-lain.
"Kita itu sebenarnya kena kuman, yaitu GERM. GERM itu kuman, semacam virus bagi sistem pendidikan kita," kata Bambang menegaskan.
Melihat sistem pendidikan yang ada saat ini, Bambang menilai, Indonesia dirasa masih belum siap untuk mengikuti sistem pendidikan seperti itu. Menurutnya, masih banyak permasalahan yang harus diselesaikan di dalam sistem pendidikan Indonesia, baik itu dari anggaran pendidikannya, tenaga pendidiknya atau materi pendidikannya.
"Sampai saat ini dana sertifikasi guru masih bermasalah. Dana dari pusat mengendap sehingga tidak sampai ke guru-guru yang ada di daerah," kata Siti Juliantari, Koordinator ICW Bidang Monitoring Pelayanan Publik.
Di sisi lain, permasalahan mengenai perubahan kurikulum yang berbasis pendidikan karakter di tingkat dasar pun menjadi kendalanya.
"Pendidikan dasar seharusnya lebih mengutamakan kemampuan baca, tulis dan berhitung. Indonesia masih ketinggalan dalam hal itu," kata Jimmy Paat, aktifis Sekolah Tanpa Batas, menambahkan.
Kurangnya ketersediaan guru yang berkualitas juga menjadi hambatan untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia.
"Menurut penelitian LIPI, saat ini kebutuhan guru produktif di Indonesia untuk tingkat SMA dan SMK saja itu sebanyak 19 ribu per tahun. 19 Ribu per tahun," kata Jimmy menegaskan.
(mad/mad)











































